Seputar 'SMS Ngutang' (Bagian 1)
Selasa, 22/11/2011 07:01 WIB
Jakarta - Kita mungkin sering mengalami hal ini, Handphone berbunyi, ada SMS masuk, udah buru-buru kita buka eh isinya adalah penawaran kredit alias utang dengan berbagai bentuk skema. Familiar dengan kondisi ini? Dan hal ini akan kerap berulang beberapa kali dalam sehari.
Saya sendiri juga mau curhat sekaligus complain dan laporan (semoga dibaca oleh regulator), bapak-bapak saya sehari bisa menerima 5-10 sms menawarkan kredit tanpa jaminan plus minimum menerima 3-5 telpon menawarkan kartu kredit baik baru ataupun tambahan. Pertanyaannya adalah mengapa sekarang banyak sekali bank yang menawarkan ngutang alias kredit tanpa jaminan dan kartu kredit? (apalagi kalau tahun depan kepemilikan kartu kredit mulai dibatasi, tawaran KTA tadi akan makin rame nih). Hal ini terjadi karena kemungkinan banyak likuiditas yang terdapat di bank tersebut.
Data yang didapat mengenai dana pihak ketiga diperbakan simpang siur akan tetapi yang pasti jumlahnya cukup banyak. Dana ini tentu saja bukan dana gratis alias bank harus membayar 'bunga' kepada penabung atau deposan. Nah, permasalahannya adalah, apabila bank membayar ke penabung dan deposan sejumlah bunga yang oleh bank biasa disebut dengan biaya bunga (Deposito) yang besarnya sebut saja 6% sementara suku bunga SBI atau BI Rate kurang lebih sebesar 6% juga serta masih ada biaya-biaya lain yang harus ditanggung bank sehingga biaya dana tadi atau istilah keren nya cost of fund menjadi 7.50%-8%, lalu pertanyaanya kemana bank tersebut menempatkan atau istilahnya 'melempar' dana tersebut untuk menutupi biaya-biaya mereka? Sudah pasti kredit donk alias utang ke masyarakat.
Apabila dilihat bahwa masih banyak bank yang tidak mengucurkan kredit ke pengusaha kecil, menengah ataupun besar (tapi yang super besar alias konglomerat biasanya justru ditawarin kredit terus). Oleh sebab itu dana-dana diperbankan tersebut disalurkan ke perorangan melalui kredit consumer atau kredit konsumtif. Mengapa hal ini dilakukan oleh Bank? Trauma atas kasus yang terjadi pada saat dan setelah krisis moneter dimana banyak bank yang ditutup dan debitor yang ngemplang, Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan regulator membuat aturan yang ketat dalam memberian kredit. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa masih banyak bank-bank yang tidak memberikan kredit usaha akan tetapi lebih tertarik untuk memberikan kredit konsumtif kepada masyarakat.
Mengapa Bank senang sekali memberikan kredit komsumtif ini? Pertama dari sisi psikologis dimana banyak kita jumpai anggota masyarakat Indonesia yang 'hobby berbelanja', menghambur-hamburkan uang, memiliki gengsi yang tinggi, dan hidup diatas batas kemampuannya membuat penggunaan kredit ini tinggi sekali. Bank atau lembaga keuangan lainnya berlomba-lomba menawarkan kartu kredit serta kredit tanpa jaminan dengan bunga yang sangat tinggi sehingga penghasilan bunga yang diterima oleh bank maupun lembaga keuangan lainnya lebih tinggi.
Kedua, apabila dalam kita berinvestasi dikenal istilah diversifikasi yang artinya memecah-mecah investasi kedalam beberapa jenis produk investasi dari beberapa perusahaan, maka bank ataupun lembaga keuangan lainnya juga ingin melakukan diversikasi debitor. Diversifikasi akan mengurangi resiko ingat Pribahasa don't put your eggs in one basket. Ketika bank memberikan kredit usaha, bank mengeluarkan kredit Rp 1 milyar ke satu perusahaan. Sehingga apabila perusahaan ini bankrut atau tutup bank mempunyai potensi untuk kehilangan Rp 1 miliarnya. Apabila bank menyalurkan kredit konsumtif dengan nilai Rp 25 juta per orang, maka dibutuhkan 40 orang untuk memasarkan dana sebesar Rp 1 milyar. Dan apabila ada 1 orang yang gagal membayar kembali utangnya, maka bank hanya akan kehilangan 1/40 dari dana tersebut.
Bagaimana kita menyikapi 'SMS Ngutang' tersebut? Nantikan tulisan berikutnya...
(qom/qom)
Saya sendiri juga mau curhat sekaligus complain dan laporan (semoga dibaca oleh regulator), bapak-bapak saya sehari bisa menerima 5-10 sms menawarkan kredit tanpa jaminan plus minimum menerima 3-5 telpon menawarkan kartu kredit baik baru ataupun tambahan. Pertanyaannya adalah mengapa sekarang banyak sekali bank yang menawarkan ngutang alias kredit tanpa jaminan dan kartu kredit? (apalagi kalau tahun depan kepemilikan kartu kredit mulai dibatasi, tawaran KTA tadi akan makin rame nih). Hal ini terjadi karena kemungkinan banyak likuiditas yang terdapat di bank tersebut.
Data yang didapat mengenai dana pihak ketiga diperbakan simpang siur akan tetapi yang pasti jumlahnya cukup banyak. Dana ini tentu saja bukan dana gratis alias bank harus membayar 'bunga' kepada penabung atau deposan. Nah, permasalahannya adalah, apabila bank membayar ke penabung dan deposan sejumlah bunga yang oleh bank biasa disebut dengan biaya bunga (Deposito) yang besarnya sebut saja 6% sementara suku bunga SBI atau BI Rate kurang lebih sebesar 6% juga serta masih ada biaya-biaya lain yang harus ditanggung bank sehingga biaya dana tadi atau istilah keren nya cost of fund menjadi 7.50%-8%, lalu pertanyaanya kemana bank tersebut menempatkan atau istilahnya 'melempar' dana tersebut untuk menutupi biaya-biaya mereka? Sudah pasti kredit donk alias utang ke masyarakat.
Apabila dilihat bahwa masih banyak bank yang tidak mengucurkan kredit ke pengusaha kecil, menengah ataupun besar (tapi yang super besar alias konglomerat biasanya justru ditawarin kredit terus). Oleh sebab itu dana-dana diperbankan tersebut disalurkan ke perorangan melalui kredit consumer atau kredit konsumtif. Mengapa hal ini dilakukan oleh Bank? Trauma atas kasus yang terjadi pada saat dan setelah krisis moneter dimana banyak bank yang ditutup dan debitor yang ngemplang, Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan regulator membuat aturan yang ketat dalam memberian kredit. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa masih banyak bank-bank yang tidak memberikan kredit usaha akan tetapi lebih tertarik untuk memberikan kredit konsumtif kepada masyarakat.
Mengapa Bank senang sekali memberikan kredit komsumtif ini? Pertama dari sisi psikologis dimana banyak kita jumpai anggota masyarakat Indonesia yang 'hobby berbelanja', menghambur-hamburkan uang, memiliki gengsi yang tinggi, dan hidup diatas batas kemampuannya membuat penggunaan kredit ini tinggi sekali. Bank atau lembaga keuangan lainnya berlomba-lomba menawarkan kartu kredit serta kredit tanpa jaminan dengan bunga yang sangat tinggi sehingga penghasilan bunga yang diterima oleh bank maupun lembaga keuangan lainnya lebih tinggi.
Kedua, apabila dalam kita berinvestasi dikenal istilah diversifikasi yang artinya memecah-mecah investasi kedalam beberapa jenis produk investasi dari beberapa perusahaan, maka bank ataupun lembaga keuangan lainnya juga ingin melakukan diversikasi debitor. Diversifikasi akan mengurangi resiko ingat Pribahasa don't put your eggs in one basket. Ketika bank memberikan kredit usaha, bank mengeluarkan kredit Rp 1 milyar ke satu perusahaan. Sehingga apabila perusahaan ini bankrut atau tutup bank mempunyai potensi untuk kehilangan Rp 1 miliarnya. Apabila bank menyalurkan kredit konsumtif dengan nilai Rp 25 juta per orang, maka dibutuhkan 40 orang untuk memasarkan dana sebesar Rp 1 milyar. Dan apabila ada 1 orang yang gagal membayar kembali utangnya, maka bank hanya akan kehilangan 1/40 dari dana tersebut.
Bagaimana kita menyikapi 'SMS Ngutang' tersebut? Nantikan tulisan berikutnya...
(qom/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
