Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), Perum Bulog baru menyerap 22.000 ton gula lokal, sebanyak 12.000 ton adalah kontrak kerjasama dengan PT RNI (Persero) dan 10.000 ton diantaranya dari PTPN XI. Sementara itu, Bulog sudah mendapatkan Surat Persetujuan Impor (SPI) untuk mengimpor gula sebesar 328.000 ton.
"Ada beberapa hal yang ingin disampaikan tentang gula nasional ini. Keinginan pemerintah untuk memiliki stok gula nasional, AGI sepakat stok nasional itu perlu. Tetapi kita harus mengacu pada kebijakan stok nasional yang utamanya berasal dari produksi domestik terutama dari gula yang dihasilkan petani," ungkap Direktur Eksekutif AGI Tito Pranoloh saat berdiskusi dengan media di Gedung Gula Negara, Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (28/04/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya memasuki 2014 stok awal kita tinggi sekali dan tertinggi dalam 15 tahun terakhir," imbuhnya.
Menurut Tito, ada beberapa faktor yang menyebabkan Bulog lebih memilih untuk mengimpor sisa serapan gula dibandingkan membeli gula lokal petani. Salah satunya adalah rendahnya harga gula impor sementara harga lelang gula lokal dinilai lebih tinggi.
"AGI sepakat stok nasional itu perlu. Selama pemerintah tidak memiliki stok nasional, sangat sulit untuk menstabilkan harga gula nasional. Artinya hambatan pemerintah untuk serap gula nasional adalah patokan harga lelang gula nasional dan Bulog keberatan dengan itu," cetusnya.
(wij/hen)