Sekretaris Komnas Pengkajian Stok Ikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Wudianto mengungkapkan mahalnya harga lelang ikan jenis SBT berbanding lurus dengan kebutuhan ikan jenis tuna di Jepang. Mayoritas ikan SBT digunakan sebagai bahan makanan sashimi dengan harga cukup mahal dan mewah.
"Di Jepang itu buat sashimi, kalau ke rumah makan Jepang sepotong SBT cukup mahal harganya, apalagi di bagian torso lain dan tidak bisa digantikan tuna jenis lain," katanya saat berdiskusi dengan media di kantor Balitbang KP, Pasir Putih, Ancol Timur, Jakarta, Kamis (23/04/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sashimi bisa saja dibuat dari yellow fin dan cakalang tetapi rasanya beda," tambahnya.
Tingginya harga ekspor ikan jenis SBT ke Jepang justru berbanding terbalik dengan harga yang ditawarkan di dalam negeri. Dengan berat yang sama, harga ikan SBT di dalam negeri paling mahal hanya diharga ratusan juta rupiah. Oleh karena itu banyak SBT yang ditangkap nelayan perusahaan perikanan justru diekspor ke Jepang karena harga yang jauh lebih tinggi.
"Di Indonesia jarang orang yang mengkonsumsi SBT lebih baik diekspor dan lebih baik makan ikan cakalang dan tongkol," ujarnya.
(wij/hen)