Ke depan bisnis pasar tradisional akan tetap bertahan, namun tidak bisa berkembang seperti yang dilakukan oleh pasar modern. Inilah yang membuat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) merasa prihatin. Belum lagi tudingan miring penyebab turunnya omzet pasar tradisional disebabkan oleh keberadaan pasar modern. “Ketidaktahuan dalam bisnis ritel yang membuat orang menuding seperti itu,” ujar Pudjianto, Ketua APRINDO.
Oleh karena itu, harus dilakukan pemberdayaan pasar tradisional karena terbukti menjadi pilar ekonomi masyarakat. Kepedulian APRINDO membantu pelaku bisnis pasar tradisional, ada dua strategi. Pertama UKM Produsen yakni memberikan pelatihan kepada pelaku bisnis bagaimana cara mengemas (packging) yang bagus agar menarik pembeli. Pelatihan ini dilakukan pihak hypermarket dan supermarket karena memiliki pengalaman maupun tempat yang luas. Kedua, UKM Ritel yang dilakukan oleh pelaku bisnis minimarket. Kedua strategi tersebut bertujuan agar pasar tradisional bisa bersaing dengan pelaku bisnis modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Alfamart misalnya melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil. Jadi ada semacam outlet binaan Alfamart,” kata Pudjianto yang juga sebagai Vice President Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Yang dilakukan selama ini adalah memberi pendidikan manajemen dalam mengelola usaha di bidang ritel. Hal yang sama juga dilakukan Indomaret dengan Outlet Mitra Indogrosir (OMI) yakni
program kemitraan dengan pemilik ritel tradisional, atau investor yang ingin mengelola dan memiliki minimarket modern yang dijalankan secara profesional (waralaba).
Dengan kemitraan ini, maka peritel tradisional mendapat manfaat harga terendah atas pembelian barang dagangan dari Indogrosir, mendapat fasilitas kredit dalam pembelian barang dagangan, dan mendapat bantuan serta bimbingan teknis dalam pengoperasian toko. Untuk mendorong tumbuhnya kemitraan di antara para pelaku usaha ritel di Indonesia, maka gerai tambahannya diwaralabakan ke pihak lain.
Pudjianto mengingatkan, bisnis ritel dari tahun ke tahun mengalami perubahan yang sangat cepat. Dahulu di era 1980-an orang berbelanja kebutuhan pokok ke supermarket. Sekarang cukup di dekat rumah yakni di minimarket. Bahkan dengan kemajuan era teknologi informatika saat ini, cukup berbelanja dengan perangkat komputer sistem online. “Hal ini yang tidak bisa dihindari dan eranya akan ke sana,” ujar Pudjianto.
Untuk itu, Alfamart mulai mengembangkan bisnisnya melalui online. Dengan jaringan Alfamart yang memiliki 7.714 outlet memanjakan pembeli dengan berbagai promo hemat belanja melalui anggota (member card). Alfamart juga bekerjasama dengan Citilink dan Lion Air untuk memudahkan masyarakat membayar kode booking tiket pesawat.
Intinya keberadaan pasar modern maupun tradisional saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Peritel besar pun sudah menunjukkan itikad baik dengan membantu peritel pasar tradisional agar maju. “Padahal ujungnya pasar tradisional nantinya harus menjadi modern,” tambah Pudjianto.
(adv/adv)











































