Pelemahan nilai mata uang sebagian besar negara di Asia terhadap dolar Amerika memunculkan kekhawatiran akan terulangnya krisis 1997. Saat itu krisis menyebabkan nilai mata uang Indonesia serta tiga negara Asia (Malaysia, Thailand dan Korea Selatan) anjlok sampai 50% terhadap dolar Amerika.
Namun DBS Group Research dalam risetnya yang bertajukβTriangulating Asian Angst: the US, China and the 97 questionβmerasa yakin kondisi Asia saat ini jauh lebih bagus dari 1997. DBS menulis, saat ini pelemahan nilai mata uang di Indonesia dan tiga negara yang mengalami krisis paling parah pada 1997 hanya sebesar 15%. Penurunan itu tidak buruk, apalagi pada saat yang sama dolar menguat 20% terhadap euro dan yen.
Ini dikarenakan fondasi ekonomi Asia kini sudah lebih kokoh. Khususnya dalam pengelolaan neraca transaksi berjalan dan utang luar negeri. Sebelum krisis terjadi, yakni 10 tahun terakhir hingga 1997, defisit transaksi berjalan Asia sangat besar. Penyebabnya, di masa itu, negara-negara Asia meminjam uang, namun tidak diinvestasikan secara benar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belajar dari pengalaman pahit itu, pasca-krisis 1997, negara-negara Asia mulai mengurangi utang-utang mereka. Hasilnya, selama 18 tahun terakhir, hampir semua negara di Asia mengalami surplus transaksi berjalan yang sangat besar. Rasio utang luar negeri pun telah turun drastis. Indonesia contohnya.Pada 1997, rasionya 57% namun sekarang turun menjadi 23% terhadap PDB.
Memang benar, ada aliran modal keluar di pasar keuangan Asia. Tapi itu tidak lantas diikuti dengan anjloknya nilai tukar seperti pada 1997. Di pasar saham, investor memindahkan modalnya, tapi di pasar obligasi mereka masih bertahan. βIni karena mereka melihat dalam jangka panjang Asia masih jauh dari krisis,β kata Chief Economist DBS David Carbon.
(adv/adv)











































