Revolusi Digital Picu Inovasi Dunia Usaha

Revolusi Digital Picu Inovasi Dunia Usaha

Advertorial - detikFinance
Selasa, 11 Okt 2016 00:00 WIB
Revolusi Digital Picu Inovasi Dunia Usaha
Jakarta - Perkembangan teknologi informasi telah membuka peluang bisnis baru. Apalagi melalui pengaplikasian Internet of Things (IoT), pendekatan terhadap produk dan jasa pun berubah.

Kini perusahaan dapat memberikan layanan purna jual yang komprehensif dengan memanfaatkan sistem sensor, konektivitas internet, dan infrastruktur komputasi awan. Dalam hal ini, analisa data besar (BIG DATA Analytics) berperan penting untuk mengetahui hal yang dibutuhkan oleh konsumen.

Sebagai contoh, pada 2013 Volkswagen meluncurkan layanan yang diberi nama "Car-Net". Lewat layanan ini, pemilik kendaraan bisa terhubung dengan dunia luar melalui jaringan internet sehingga pengemudi dapat terhindar dari kemacetan, mengetahui informasi jadwal ke bengkel atau bahkan kejadian kecelakaan. Layanan yang diberikan Volkswagen kepada konsumennya itu bekerja dengan sistem internet.

"Internet of Things" (IoT). IoT adalah terhubungnya benda-benda yang memiliki sensor pintar di dalam sebuah ekosistem digital. Melalui jaringan internet, sensor pintar itu kemudian mengirimkan informasi terkait aktivitas pengguna ke server atau komputasi awan melalui aplikasi yang digunakan," kata Sachin Mittal, analis telecom, media, & technology DBS Group Research, dalam risetnya yang berjudul "From Products to Services:The Next Internet of Things and How Asia Is Driving Its Adoption.

Mittal juga mengemukakan Semua data di server yang diproses dan dianalisa, hasilnya menjadi rekomendasi bagi pelaku usaha untuk mengeluarkan produk atau layanan jasa baru sesuai kebutuhan pelanggan.Dapat disimpulkan IoT dunia usaha dituntut semakin inovatif untuk menciptakan berbagai peluang bisnis baru dari setiap produk yang diproduksi.

Dia juga mengatakan "IoT akan mengubah cara kita berbisnis, sebagaimana dilakukan internet pada 1990-an,"


Revolusi Digital Picu Inovasi Dunia Usaha

Penerapan IoT tidak hanya bermanfaat bagi dunia usaha, melainkan juga pemerintah kota dalam memberikan pelayanan kepada warganya. Sistem "smart city" ini sekarang sudah mulai diterapkan oleh sejumlah pemerintahan di Asia. Tiongkok bahkan akan mengembangkan konsep "smart city" di 202 kota seiring meningkatnya urbanisasi di negara tersebut.

Sementara Singapura, akan memberikan layanan kesehatan jarak jauh lantaran keterbatasan layanan di rumah sakit tidak dapat mengimbangi jumlah penduduk usia tua yang terus meningkat. Dengan layanan tersebut, kondisi pasien bisa langsung terpantau dokter melalui sistem informasi yang ada di rumah sakit.

Sampai saat ini, Asia Pasifik merupakan kawasan paling agresif menerapkan sistem IoT, terutama Singapura dan Korea Selatan. Menurut kajian Forrester Consulting, sekitar 58 persen perusahaan di Asia Pasifik sudah mengimplementasikan atau berencana menerapkannya dalam 24 bulan ke depan. Akan tetapi, bukan berarti tidak ada rintangan dalam penerapan IoT, terutama menyangkut keamanan dan kerahasiaan data pengguna. Kendati demikian, Frost & Sullivan memperkirakan total belanja IoT di kawasan ini mencapai US$ 59 miliar pada 2020. Kontribusi pertumbuhan tersebut terutama berasal dari penerapan IoT di sektor manufaktur.

Seiring meningkatnya penerapan IoT dalam kehidupan sehari-hari, pemerintah dan pelaku usaha perlu membuat standardisasi protokol IoT yang dapat dipakai oleh seluruh jenis produk.

Hal ini penting dilakukan mengingat pada 2020 sekitar 80 persen pendapatan di sektor IoT akan berasal dari layanan jasa ini, termasuk layanan data analytics. Lembaga riset teknologi informasi Gartner memperkirakan IoT akan mendorong peningkatan belanja jasa menjadi US$ 263 miliar dari US$ 69,5 miliar pada 2015, atau rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 23 persen.

Gartner pun memperkirakan pemanfaatan IoT akan menciptakan nilai tambah hingga US$ 1,9 triliun pada 2020. "IoT akan mengubah bagaimana bisnis dijalankan, termasuk struktur industrinya. Tapi peluang pertumbuhan dan pendapatan yang besar tidak bisa diabaikan, sehingga perusahaan yang paling awal mengadopsi sistem ini yang akan menuai keuntungan," kata Mittal. (adv/adv)

Berita Terkait