Follow detikFinance
Kamis, 11 Okt 2018 00:00 WIB

Konsumsi Energi Terbarukan Meningkat, Bagaimana Nasib Batu Bara?

Advertorial - detikFinance
Jakarta -

Pemanfaatan energi terbarukan sebagai sumber alternatif menggantikan energi konvensional sedang menjadi tren di sejumlah negara. Upaya ini dinilai ampuh mengurangi emisi yang ditimbulkan dari energi fosil, terutama batu bara yang buruk bagi lingkungan.

DBS Group Research memproyeksikan penggunaan batu bara sebagai sumber energi akan berkurang. Pada 2030, konsumsi batu bara global diperkirakan turun menjadi 25% dari 28% pada 2016. Sementara pemanfaatan energi terbarukan global akan meningkat dari 15% (2016) menjadi 22% (2030).

Salah satunya dilakukan China, negara penyumbang terbesar emisi karbon global. Pada 2020, negara itu akan mengurangi emisi karbonnya hingga 18% dengan cara meningkatkan penggunaan bauran energinya. China pun akan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan menjadi 15% pada 2030.

Di Asia, India pun tengah melakukan reformasi dengan mengembangkan energi angin dan surya sebagai energi alternatif. India menargetkan dapat meningkatkan konsumsi energi terbarukan menjadi 20% pada 2018. Selain itu, 197 negara telah berkomitmen mengurangi penggunaan energi fosil melalui Pakta Paris 2015.

Upaya global mengurangi emisi dari energi fosil juga terlihat dari pertumbuhan penjualan kendaraan listrik. Pada 2030, penjualannya diperkirakan mencapai 26 juta unit dari hanya 1,26 juta unit pada 2016. Cara ini juga dinilai efektif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar.

Kendati pemanfaatan energi terbarukan terus meningkat, tapi negara-negara penghasil bahan bakar berbasis fosil tidak perlu khawatir. Permintaan energi fosil, termasuk batu bara, akan tetap meningkat. Meskipun pertumbuhannya tidak lebih pesat dibandingkan permintaan dan konsumsi energi terbarukan.

“Penggunaan energi terbarukan akan meningkat hingga 22 persen pada 2030, tapi permintaan tiga bahan bakar fosil utama: batu bara, minyak, dan gas akan tetap tumbuh dengan kenaikan yang bervariasi,” kata Suvro Sarkar et.al analis di DBS Group Research dalam laporannya ‘2030 Energy Mix’ yang dirilis 5 Juli 2018.

DBS Group Research menyebutkan, pasar batu bara tidak akan meredup dalam waktu dekat. Apalagi ketergantungan sejumlah negara pada batu bara, terutama untuk pembangkit listrik dan kegiatan industri masih tinggi.ASEAN akan menjadi salah satu pasar batu bara terbesar, selain Tiongkok dan India.

Di Indonesia, meski kendati menargetkan konsumsi energi terbarukan sebesar 23% pada 2025, tapi sebagian besar proyek pembangkit listrik didominasi batu bara. Dalam cetak biru target energi bauran, konsumsi batu bara mencapai 31% hingga 2025, disusul minyak, dan campuran energi terbarukan lain.

Namun dengan meningkatnya konsumsi energi non-fosil, artinya produsen batu bara perlu menekan biaya operasionalnya. Alhasil akan menciptakan harga yang kompetitif di kisaran US$ 70 per ton. Klik di sini untuk hasil riset lainnya.

(adv/adv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed