Mengenal Gamma Knife Surgery, Pengobatan Tumor di Otak Tanpa Bedah

Advertorial - detikFinance
Rabu, 12 Feb 2020 00:00 WIB
adv siloam
Gamma Knife Surgery (Foto: Dok Siloam Hospitals Lippo Village)
Jakarta - Otak adalah organ yang sangat vital bagi manusia. Di dalamnya terdapat miliaran sel saraf yang terkoneksi dengan organ dan panca indera manusia. Namun, apa jadinya bila terdapat sel tumor yang tumbuh di dalam otak?

Mendengar kata tumor, baik jinak maupun ganas, pastinya sangat menakutkan. Apalagi jika letaknya ada di otak manusia. Sebagian orang pun berpikiran jika satu-satunya solusi pengobatan tumor hanya dengan operasi maupun kemoterapi.

Akan tetapi, sebagai organ yang sangat vital, risiko yang harus ditanggung pasien tumor otak tergolong tinggi apabila memilih jalan operasi. Begitu pula dengan kemoterapi yang punya efek samping lain. Lalu, apakah ada cara lain untuk pengobatan tumor otak tanpa melalui operasi dan kemoterapi?

Dokter spesialis bedah saraf Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Lutfi Hendriansyah, Sp.BS menerangkan bahwa otak adalah bagian dari tubuh yang berada dalam rongga kepala dan volume rongga kepala relatif tidak pernah bertambah. Jika ada pertumbuhan tumor, maka akan terjadi penekanan pada otak oleh tumor sehingga perusakan terhadap fungsi otak pun tak terhindarkan.

"Untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut, pengobatan yang biasanya ditempuh agar menyingkirkan sumber penekanan adalah melalui operasi. Tentu tidak mudah, operasi pun dilakukan dengan tetap mempertimbangkan risk dan benefit. Misalnya, setelah MRI (Magnetic Resonance Imaging), besar tumornya sudah nampak seperti bola tenis, kondisi tumor seperti itu hampir pasti harus dikeluarkan, dengan menimbang risikonya apa," kata dr. Lutfi di Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, Banten, Jumat (15/11/2019).

Operasi ini juga tidak serta merta dapat dilakukan. Perlu dilakukan analisis risk and benefit yang akan didapatkan pasien jika ingin melakukannya. Ia mencontohkan, misalnya tumornya terletak di bagian dalam otak atau dekat dengan struktur otak yang dominan, kondisi ini berbahaya karena jika struktur itu terganggu akibatnya bisa sangat fatal bahkan menyebabkan kematian. Untuk itu, analisis dan diskusi tentang risk and benefit tindakan juga jadi faktor penting yang tak boleh ditinggalkan.

Namun, kini masyarakat tak perlu khawatir. Seiring dengan perkembangan teknologi, telah muncul Gamma Knife Surgery atau lebih dikenal dengan Gamma Knife. Sebuah teknologi pengobatan tumor otak yang awalnya dikembangkan di Swedia tanpa perlu membedah otak. Cara ini bisa jadi solusi bagi pasien tumor otak yang letak dan ukuran tumornya sulit dan rumit dijangkau atau risikonya terlalu tinggi untuk proses operasi. Prinsip kerjanya adalah menggunakan sinar gama untuk merusak sel tumor otak dengan sasaran yang sangat akurat.

"Sinar radiasi ini akan merusak sel tumor sampai ke tingkat DNA. Walaupun sel tumornya tidak langsung mati, tapi sinar radiasi yang dipancarkan akan mengubah struktur sel tumor, sehingga umur sel menjadi pendek dan kemampuan kembang biaknya jadi kecil," tuturnya.

Selanjutnya, sinar gama yang digunakan tadi juga akan merusak pembuluh darah atau vaskularisasi di sekitar tumor sehingga aliran darah ke tumor jadi tertutup secara alamiah. Kondisi ini secara bertahap akan memicu kematian sel tumor lebih lanjut. Maka itu, meskipun pasien bisa beraktivitas normal setelah menempuh terapi Gamma Knife, pasien tetap harus memantau sel tumor selama bertahun-tahun.

Saat melakukan terapi Gamma Knife, pasien harus melakukan pencitraan MRI guna mendeteksi letak tumornya dengan mengenakan bingkai khusus di kepala. Kemudian, pasien akan berbaring dan masuk ke mesin yang di dalamnya terdapat 192 sumber sinar gama yang akan dipancarkan ke arah target melalui 192 saluran/collimator channel di sekeliling kepala. Bingkai di kepala itu untuk menjamin presisi penyinaran pada target.

dr. Lutfi mengatakan sejak 2012, sudah ada lebih dari 900 pasien yang sudah menggunakan terapi Gamma Knife di Siloam Hospitals Lippo Village. Namun sebenarnya, teknologi ini sudah digunakan di luar negeri sejak awal tahun 1960-an. Penyebab tumor otak sangat kompleks seperti faktor genetik, perubahan genetik, faktor keturunan ada juga faktor lingkungan, dan pengaruh radiasi.

"Jadi penyebabnya bisa berbeda-beda sesuai dengan jenis tumornya, tidak bisa disamakan," terangnya.

Namun, tanda-tandanya bisa ditelisik apabila seseorang sakit kepala yang disertai muntah secara konsisten. Itu berkaitan dengan tekanan dalam tulang tengkorak yang meningkat.

"Demikian juga jika tanda-tandanya seperti gangguan saraf, antara lain bicaranya jadi pelo, sering mengantuk yang tidak wajar sehingga kesadaran mulai turun, dan kelemahan anggota gerak," tuturnya.

Kemudian apabila pandangan mata yang terganggu seperti penglihatan yang kabur dan lapangan pandang terganggu juga tiba-tiba kejang, perlu waspada dan segera pergi ke dokter untuk mengecek kondisi kesehatan. "Orang yang terganggu lapangan pandang itu contohnya, ia mampu menyetir, tetapi keserempet kanan kirinya, itu tanda lapangan pandangnya terganggu," ungkapnya.

Selain untuk menghilangkan tumor, Gamma Knife juga bisa digunakan untuk mengobati malformasi arteriovenosa (AVM) atau kelainan pembentukan pembuluh darah (vena) dan trigeminal neuralgia (nyeri saraf trigeminal yang bertanggung jawab untuk sensasi di wajah).

dr. Lutfi menerangkan, selain Gamma Knife, Siloam Hospitals Lippo Village juga memiliki fasilitas lain untuk penanganan tumor otak, antara lain operasi melalui metode mikro atau endoskopi, kemoterapi maupun targeted therapy. Segera #KeSiloamAja jika Anda mengalami tanda-tanda yang berkaitan dengan risiko tumor otak, karena pengobatan yang dilakukan secara dini akan memperbesar peluang kesembuhan Anda di masa depan. (adv/adv)