BRI Beri Kontribusi ke Pemberdayaan Perempuan di Kabupaten Demak

Advertorial - detikFinance
Senin, 17 Mei 2021 00:00 WIB
adv_bri
Foto: dok. Pradita Utama
Jakarta - Berbatasan langsung dengan Laut Jawa menjadikan sebagian masyarakat di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, berprofesi sebagai nelayan. Setidaknya sebanyak 16.625 orang yang tinggal di pesisir Kota Wali ini melaut setiap harinya.

Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, sektor perikanan Demak mampu menghasilkan 7,037 ton per tahunnya dengan 5.020 ton berasal dari tempat pelelangan ikan bernilai Rp 59,9 miliar.

Komoditas perikanan unggulan dari Kota Wali ini antara lain rajungan, ikan bandeng, lele, hingga udang. Tak hanya itu, banyak juga olahan ikan yang melaju pesat di kota yang terkenal dengan budaya Islamnya yang kental.

Pengusaha olahan ikan ini tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Demak, salah satunya adalah Desa Morodemak, Kecamatan Wedung, Demak. Di wilayah ini, terdapat sebuah kelompok yang menamakan diri mereka KWT Puspita Bahari.

Salah satu anggotanya adalah Hidayah (42) yang memiliki usaha pengolahan ikan. Produk olahan ikan bikinannya kerap dijadikan oleh-oleh pengunjung Demak.

Salah satu produk unggulannya adalah ikan seriding crispy. Berkat olahan tersebut, ikan yang tadinya tidak laku di pasaran ini menjadi ladang rezeki bagi perempuan 4 anak ini.

"Bahannya yaitu ikan seriding ini saya ambil dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan), harga ikan basahnya sekarang Rp 10.000/kg dan ketika sudah diolah harganya jadi Rp 100.000/kg, produk ini juga dipasarkan di Rumah BUMN BRI dan Rumah Produksi," tutur Dayah kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

adv_briFoto: dok. Pradita Utama

Dayah mengatakan sejak mendapatkan bantuan dari BRI dirinya dapat memproduksi olahan ikan seriding dengan lancar. Adapun bantuan yang diberikan BRI antara lain peralatan seperti spinner, sealer, kompor, dan wajan. Ada juga bantuan pinjaman dari BRI yang membuat produksinya semakin meningkat.

"Kalau dulu kan produk saya masih ada minyaknya jadi kalau setor ke mana-mana setelah 1 bulan itu akan dikembalikan, setelah ada bantuan produknya bisa jadi lebih tahan lama dan bisa tahan sampai 3 bulan. Termasuk peyek saya ini berkat ada bantuan dari BRI ada cetakannya jadi 1 kompor itu bisa nyetak 4, nah ada 4 kompor ya ada berapa itu bisa ditotal, dulu hanya 2 kg sekarang bisa sampai 6 kg bisa lebih," jelasnya.

Adapun KWT Puspita Bahari memiliki misi mengentaskan budaya patriarki yang mengungkung gerakan perempuan. Kelompok ini dipimpin oleh seorang wanita yang juga pernah menjadi anak nelayan, Masnuah.

Wanita kelahiran 1974 ini memiliki program untuk mensejahterakan keluarga nelayan. Tidak hanya para ibu, namun termasuk anak-anak, dan mereka yang kesulitan menabung.

"Nah dari produk yang dihasilkan komunitas itu, akhirnya juga melawan dan mengurangi angka kemiskinan dan kekerasan yang selama ini membelenggu perempuan. Kedua, kami juga advokasi hak-hak perempuan nelayan terkait perubahan identitas yang selama ini yang dianggap nelayan kan laki-laki, nah perempuan di sektor perikanan, entah itu yang mengolah, memasar, bahkan yang melaut pun tidak dianggap nelayan, sehingga itu penting untuk kami perjuangkan, supaya perempuan nelayan ini mendapat hak yang sama," ungkap Masnuah.

adv_briMasnuah (Foto: dok. Pradita Utama)

Dalam mendukung keberlangsungan anggotanya, Masnuah pun kerap mendapatkan bantuan dari beberapa pihak seperti dari anggota Puspita Bahari atau PPNI, ada juga bantuan dari pihak lainnya dalam hal pelatihan untuk penguatan skill dan keterampilan, membuat produk yang baik, pengemasan, akses pasar dan alat-alat produksi dari berbagai pihak.

"Salah satunya, dari BRI ya, dari BRI kami sudah dapat CSR BRI Peduli berupa olahan hasil laut dan alat-alat pendukung produksi yang kami salurkan di 3 sentra. Sentra ikan kering, olahan ikan, dan terasi," tuturnya.

Tak hanya itu, BRI Juga memberikan berbagai fasilitas lainnya seperti kelas-kelas pelatihan, memaksimalkan digitalisasi, membuat manajemen keuangan. Bahkan, pusat oleh-oleh yang dimiliki oleh Puspita Bahari juga kami didukung dengan BRI.

"Awal mula kerja sama dengan BRI itu saya mulai nabung itu sudah lama, cuma saya ingat mulai akses kemitraan itu mulai tahun 2012, mulai dari Rp 50 juta waktu itu, bukan KUR tapi kemitraan. Terus kami ambil tiga tahun, 2015 kami akses KUR juga, plafon Rp 150 juta untuk membuat rumah yang saya tempati di Jogoloyo ini sekalian produksi, di rumah Jogoloyo ini juga kami produksi. Selain itu kami tetep mendampingi kawan-kawan komunitas ya," katanya.

Melihat hal tersebut, Pemimpin BRI Cabang Demak Muhammad Nizar mengatakan Masnuah merupakan salah satu tokoh masyarakat terkenal di lingkungan pesisir yang aktif dalam membela hak-hak wanita.

Nizar melihat sosok Masnuah merupakan perempuan yang berjuang untuk memperkuat ekonomi wanita nelayan di pesisir dengan cara membina ratusan anggota perempuan. Dari situlah dirinya berhasil mengakomodir, membantu jalan mereka, hingga menumbuhkan ekonomi di kalangan nelayan pesisir.

"Jika dilihat dari kacamata bank itu sangat visible untuk dibiayai walaupun belum bankable. Jadi sebetulnya pas sekali, mereka punya kemauan, punya kemampuan, usahanya juga stabil, jadi kita suntik lah di modal untuk lebih berkembang lagi usahanya," tutur Nizar.

"Sudah banyak lah yang diberikan KUR mikro, kalau Bu Masnuah sendiri KUR Retail, anggotanya karena kecil-kecil banyak yang bikin ikan asin, teri, snack dari bahan ikan, jadi sektornya KUR Mikro di bawah Rp 50 juta," tambahnya.

adv_briPemimpin Cabang BRI Demak (Foto: dok. Pradita Utama)

Ia mengatakan BRI juga memberikan bantuan CSR kepada anggota KWT Puspita Bahari untuk meningkatkan produksinya, mulai dari alat pengolahan ikan, pemasaran hingga rumah BUMN BRI sebagai tempat mereka memajang produknya dan mendapatkan pelatihan. Selain itu, para karyawan BRI Demak juga diwajibkan membeli produk yang dihasilkan oleh perempuan tersebut.

"Selanjutnya pelatihan yang rutin diadakan. Akhirnya mereka berkembang, bikin di sebelah Masjid Agung, baru belum ada 6 bulan, kita juga bantu untuk desainnya, kebersihan dan sanitasi di sana. Yang terbaru kita bantu CSR packaging yang semula sangat standar, kita bantu untuk desain yang sangat bagus, kita coba untuk 1000 pcs produknya seperti yang dijual di supermarket mahal," imbuhnya.

Ia mengatakan setelah adanya bantuan dari BRI para perempuan pesisir tersebut mulai lebih percaya diri dan meningkat penghasilannya. Bahkan ada beberapa dari mereka yang membuka usaha dan berhasil, bahkan menjadi trendsetter bahwa wanita di pesisir dapat ikut meningkatkan ekonomi dalam membantu suami.

"Mereka ada yang suami istri nelayan, ada yang ketika suaminya pulang kemudian diolah oleh istrinya, yang awalnya ikan itu hanya dijual begitu saja kemudian diolah dan hasil olahan tersebut sehingga ada nilai tambahnya dan harganya lebih tinggi sehingga ada peningkatan ekonominya. Apalagi setelah ditempel oleh BRI menjadi punya value dan lebih berkembang," tandasnya. (adv/adv)