Hal ini akan memperlambat pertumbuhan dan memaksa pemerintah-pemerintah di kawasan Asia untuk melakukan penyesuaian yang sulit di bidang kebijakan untuk mendorong efisiensi energi di kalangan konsumen.
Demikian laporan terbaru Asian Development Outlook 2008 Update (ADO Update) dari ADB yang dikutip detikFinance, Selasa (16/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADB memperkirakan bahwa penurunan harga minyak baru-baru ini hanya sementara dan pertumbuhan ekonomi yang tidak stabil di kawasan Asia akan menambah tekanan pada pasokan minyak dunia dan membuat harga tinggi diatas $100 per barel paling tidak hingga tahun 2020.
Dalam satu kajian menyeluruh tentang harga minyak dunia di masa depan dan dampaknya pada perekonomian yang sedang berkembang di Asia, laporan ini memperingatkan bahwa Asia sebagai net importir energi yang utama akan sangat terpukul oleh meningkatnya harga minyak secara berkepanjangan.
"Harga minyak akan tetap tinggi, dan semakin cepat negara-negara berkembang di Asia menyadari kenyataan ini semakin baik," kata Ifzal Ali, Kepala Ekonom ADB.
Harga minyak yang tinggi secara berkepanjangan hampir bisa dipastikan akan berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi Asia di waktu yang akan datang.
Laporan ADB tersebut mencatat bahwa peningkatan harga minyak saat ini, yang dimulai pada tahun 2003 secara fundamental berbeda dengan goncangan harga minyak sebelumnya yang terjadi pada tahun 1970an, yang disebabkan oleh gangguan sementara pada pasokan minyak.
Tingginya harga minyak saat ini sebagian besar disebabkan oleh melonjaknya permintaan dan ketidakmampuan para produsen untuk menyesuaikan pasokan dengan lonjakan permintaan yang terjadi.
Pertumbuhan yang sangat tinggi di negara-negara berkembang di kawasan Asia dan besarnya kebutuhan akan impor energi telah berdampak besar pada harga minyak dunia.
"Konsumsi minyak di negara-negara berkembang di Asia tiga kali lebih tinggi dari produksi minyaknya sehingga temuan dari laporan ini tidak bisa diabaikan. Jika gagal bertindak sekarang maka kerugian yang timbul akan lebih besar nantinya," ujarnya.
Penyesuaian yang sulit tetapi penting harus dilakukan dalam bidang kebijakan makro ekonomi dan juga kebijakan energi.
"Yang lebih penting lagi, para pembuat kebijakan harus menggunakan pendekatan hukuman dan hadiah (carrot and stick approach) dalam hal subsidi dan pajak untuk mendorong perusahaan-perusahaan dan konsumen menggunakan minyak secara lebih efisien," ujarnya. (ddn/qom)











































