Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump segera memutuskan usulan kesepakatan demi memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Bersamaan dengan itu, orang nomor satu di negeri Paman Sam tersebut terus mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Melansir Reuters, Sabtu (30/5/2026), Trump menyatakan pengumuman mendatang akan menjadi "keputusan akhir" tentang proposal damai tersebut.
Hal itu disampaikannya meski sampai saat ini kedua negara masih berbeda pendapat mengenai isu-isu penting yang menjadi inti konflik di Timur Tengah itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam klausul yang diusulkan, Trump menyebut akan berisikan perpanjangan jangka waktu gencatan senjata pada April selama 60 hari lagi, serta memberi waktu kepada para negosiator untuk mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang.
Secara terpisah, pihak Gedung Putih AS menyampaikan bahwa sebelumnya telah dilaksanakan rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Donald Trump. Namun, pihak Istana enggan membeberkan detail, apakah rapat tersebut membahas mengenai putusan final gencatan senjata Iran-AS.
"Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik untuk Amerika dan memenuhi garis merahnya. Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata salah seorang pejabat di Gedung Putih.
Sementara itu, salah seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters kesepakatan dua negara sudah mencapai titik puncak pembahasan namun belum berhasil mencapai kesepakatan.
Dalam hal ini, selain meminta penghentian pengembangan nuklir Iran, pemerintah Trump juga meminta agar Selat Hormuz dibuka kembali untuk publik. Dua syarat tersebut lah yang kemudian membuat proses kesepakatan perdamaian menjadi sangat alot karena tak ingin dipenuhi oleh Iran.
"Iran harus setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki Senjata Nuklir atau Bom. Selat Hormuz harus segera dibuka, tanpa biaya tol, untuk lalu lintas pengiriman tanpa batasan, di kedua arah," kata Trump di lain kesempatan.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan AS tak bisa ikut campur soal urusan Selat Hormuz. Menurutnya teritorial laut tersebut hanya bisa dibahas dan dikendalikan oleh pemerintahan Iran dan Oman.
Padahal, lebih dari masalah pengembangan nuklir, ancaman yang paling nyata bagi Trump saat ini adalah akses di Selat Hormuz. Sebab saat ini Trump sedang berada di bawah tekanan untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut dan menurunkan harga bensin AS.
Masalah akses Selat Hormuz dan harga BBM di AS ini setidaknya perlu diselesaikan Trump mengingat pemilihan kongres akan dilakukan November mendatang, di mana para pemilih menunjukkan frustrasi yang meningkat atas kenaikan harga. Pada saat yang sama, ia menghadapi potensi reaksi keras dari kelompok garis keras Iran di partainya sendiri atas konsesi apa pun kepada Teheran.
(igo/hns)










































