Pasar Properti Asia Pasifik Tak Sekinclong Dulu

Pasar Properti Asia Pasifik Tak Sekinclong Dulu

- detikFinance
Kamis, 18 Sep 2008 10:48 WIB
Pasar Properti Asia Pasifik Tak Sekinclong Dulu
Singapura - Pasar properti Asia Pasifik yang mengalami peningkatan pesat dari sisi harga sewa dan nilai kapital selama beberapa tahun terakhir kini memasuki kemunduran selama 12 bulan ke depan.

Demikian analis dari Head of Research untuk Jones Lang LaSalle Asia Pasifik Jane Murray yang dikutip detikFinance, Kamis (18/9/2008).

"Berbeda dengan siklus-siklus sebelumnya--- dengan mengacu pada fundamental kuat yang mendasarinya --- dampak downturn atau kecenderungan untuk menurun diharapkan sedang-sedang saja di pasar-pasar Asia Pasifik," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sektor perkantoran, semakin banyak perusahaan yang menunda rencana ekspansi mereka, menegosiasikan renewal rates, dan menunda rencana peningkatan kualitas fasilitas mereka.

"Tingkat okupansi yang rendah selama ini dan ketersediaan suplai yang terbatas di sebagian besar pasar akan menolong mengurangi dampak melemahnya permintaan penyewa," ujarnya.

Namun, potensi oversupply menjadi masalah di beberapa daerah di region Asia Pasifik, khususnya di kota-kota Tier 1 China dan sebagian pasar mikro daerah sub urban India.

"Tokyo merupakan salah satu pasar perkantoran yang mengalami fase downturn dan kota-kota lainnya diperkirakan akan mengalami hal yang sama 12 hingga 18 bulan mendatang," ujar Murray.

Di sektor ritel, kondisi perdagangan yang semakin sulit ditambah munculnya suplai-suplai baru di beberapa pasar, memungkinkan terjadinya pertumbuhan penyewaan (rental) yang lebih moderat.

Sektor ini akan terus mengalami perubahan struktural, khususnya di pasar-pasar yang tengah berkembang pesat seperti China dan India, di mana mal-mal tengah menjadi fitur penting lansekap ritel dan ekspansi pengusaha ritel high-end tengah berkembang pesat.

Sektor industri juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rental jangka pendek yang lebih lambat akibat menurunnya permintaan yang disebabkan kemunduran ekonomi dan tingginya biaya energi. (ddn/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads