Dirut Pertamina Ari Soemarno menjelaskan, harga minyak yang menurun dan alpha yang mengecil jelas membuat marjin distribusi BBM subsidi minus.
"Kita dengan harga minyak di kisaran US$ 105-110 per barel dan alphanya 9% saja marjin kita 0,1. Apalagi dengan harga sekarang dan alpha 8%, rugi kita," katanya usai rapat dengan Pansus DPR soal Hak Angket BBM di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (18/9/2008).
Ia juga mengakui, harga minyak yang menurun akan berpengaruh terhadap target pendapatan perseroan pada tahun ini. Pertamina membidik pendapatannya tahun ini bakal menembus Rp 500 triliun. Namun ia tidak menyatakan berapa penurunan pendapatan yang bisa terjadi.
Sementara anggota Panitia Anggaran Tjatur Sapto Edy menjelaskan penjelasan Pertamina itu tidak masuk akal. Masalahnya, jika Pertamina mengaku rugi dengan alpha 9% saat ini, tidak mungkin perusahaan lain seperti Shell bisa memasok BBM untuk PLN dengan marjin hanya 1,38%.
"Meskipun lokasi tujuannya berbeda, tapi perbedaannya marjinnya terlalu jauh. Masa Shell bisa pasok PLN hanya dengan 1,38%?" katanya.
Bagi Tjatur, akan lebih masuk akal kalau Pertamina mengeluh karena terbebani dengan utang-utang dari pihak lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data terakhir Pertamina menyebutkan utang PLN tercatat hingga Rp 40 triliun. Selain itu ada juga utang dari Garuda Indonesia, TNI Polri dan Sempati. (lih/ddn)











































