Direktur Utama PT Indonesia Ferry Bambang Surjanto mengakui masih banyak masalah yang belum selesai di pelabuhan penghubung Jawa-Sumatera ini.
Β "Memang masih ada beberapa masalah yang harus kita benahi, tapi kami sudah siap dengan beberapa cara untuk antisipasinya," jelasnya usai kunjungan bersama Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil di Pelabuhan Merak, Banten, Minggu (21/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya kami sudah menyiapkan jalur khusus motor untuk mengantisipasinya," ujarnya
Tak hanya masalah kapasitas kendaraan, masalah calo tiket yang banyak beredar di sekitar lokasi Pelabuhan Merak pun masih meradang. Untuk hal ini pihaknya sedang mengkaji kemungkinan untuk mengganti sistem tiket yang ada dengan electronic ticketing sehingga tidak ada lagi peranta dan kecurangan dalam pembelian tiket.
Ia menambahkan, sistem elektronic ticket tersebut kajiannya sudah hampir rampung. "Software-nya sudah ada, hanya perlu sosialisasi terhadap sumber daya manusianya," katanya.
Pengisian bahan bakar pun tidak luput dari masalah. Menurutnya tempat pengisian bahan bakar yang berada di lepas pantai (bunker) memakan waktu terlalu lama dari yang biasa dilakukan di dermaga. Sehingga satu armada bisa kehilangan satu hingga dua perjalanan hanya untuk mengisi bahan bakar saja.
Masalah makin pelik dengan adanya sebuah area seluas 6.000 meter persegi di dalam wilayah dermaga yang dihuni oleh masyarakat yang tak dikenal. Padahal wilayah tersebut merupakan wilayah yang berpotensi untuk digunakan pelabuhan. Dari informasi yang ia dapatkan, tanah tersebut dikabarkan milik PT Kereta Api Indonesia.
Menanggapi hal ini, Meneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan, seluruh tanah di areal pelabuhan seharusnya steril. Kementerian akan membantu jika memang itu tanah milik PT KAI.
"Yang penting sekarang harus jelas dulu mau dibuat apa tanah itu," tuturnya.
Sedangkan untuk seluruh persiapan yang dilakukan PT Indonesia Ferry, Sofyan menambahkan, yang paling penting adalah bagaimana persiapan sumber daya manusianya. Dia meminta, seluruh tahapan bisa dipersiapkan dengan skenario cadangan berupa sistem manual.
"Jika terjadi sesuatu atau sabotase dan semua listrik mati maka semua harus bisa dilakukan secara manual. Mereka harus persiapkan worst case scenario-nya," urainya.
(ang/lih)










































