Pada perdagangan Senin (22/9/2008), minyak jenis light untuk pengiriman Oktober melonjak hingga 16,37 dolar atau sekitar 15,7% ke level US$ 120,92 per barel.
Kontrak ini akhirnya menembus US$ 110 per barel untuk pertama kalinya sejak 29 Agustus. Harga sempat mencapai titik tertingginya di US$ 130 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah kenaikan yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Antoine Haiff, analis dari Newedge Group seperti dikutip dari AFP, Selasa (23/9/2008).
Harga minyak mentah terus melonjak seiring dengan anjloknya dolar AS hingga 2% atas euro. Pelemahan dolar AS diakibatkan oleh kekhawatiran investor tentang dampak rencana penyelamatan massal senilai US$ 700 miliar yang diumumkan pemerintah AS.
"Pasar sedang menggila disini dan pelemahan dolar menjadi pemicu dari lonjakan harga minyak. NYMEX pengiriman juga akan segera berakhir dan itulah yang memicu short-covering," kata analis dari Summit Energy di Louisville seperti dikutip dari Reuters.
Wall Street Anjlok Lagi
Sementara saham-saham di Wall Street kembali bertumbangan. Investor terus mencermati dampak lebih lanjut dari rencana penyelamatan krisis finansial bernilai ratusan miliaran dolar yang kini belum mendapat restu dari kongres AS.
Indeks Dow Jones pada perdagangan kemarin ditutup merosot 372,75 poin (3,27%) ke level 11.015,69. Nasdaq ditutup merosot 94,92 poin (4,17%) ke level 2.178,98 dan Standard & Poor's 500 anjlok 47,99 poin ke level 1.207,09.
Investor khawatir apakah rencana itu akan mendapat persetujuan dari kongres AS. Selain itu, jika diimplementasikan, maka dikhawatirkan akan memicu kerusuhan lain di aset-aset yang relatif aman seperti emas dan minyak, sementara dolar AS anjlok. Ini terbukti dari harga minyak yang kemarin melambung tajam.
Mark Zandi dari Economy.com mengatakan, rencana bailout itu sepertinya positif namun tidak akan menyembuhkan dalam perekonomian dalam waktu cepat.
"Terima kasih kepada para pembuat kebijakan atas langkah yang cepat dan kreatif ini, sistem finansial akan kembali dari tepian dan akan segera stabil. Namun kejatuhan ekonomi lainnya masih akan datang," katanya seperti dikutip dari AFP.
"Enam bulan kedepan akan sangat menyakitkan dan 6 bulan berikutnya sepertinya tidak akan nyaman. Perekonomian tidak akan menemukan kakinya hingga akhir dekade ini," pungkasnya.
(qom/qom)










































