Setoran dividen yang antara lain berasal dari Pertamina terlalu tinggi padahal dividen Pertamina tidak bisa tinggi jika harga minyak drop. Windfall profit dari tingginya harga minyak tak bisa diperoleh Pertamina.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Menneg BUMN M Said Didu di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (26/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun meskipun demikian, setoran dividen BUMN tahun 2009 sebesar Rp 33 triliun tidak akan direvisi.
"Tidak akan revisi target, tetap 33 triliun, kita lihat saja dulu karena harga minyak tidak bisa diprediksikan, siapa tahu kalau akhir tahun harga minyak bisa naik lagi berarti perhitungannya bisa beda lagi, cuma perhitungan untuk amannya US$ 135 per barel," ujarnya.
Said kembali mengeluhkan besarnya pay out ratio setoran BUMN yang selama ini selalu dinaikkan. Tahun ini saja pay out ratio BUMN mencapai 30,66 persen padahal idealnya menurut Said 25 persen.
Tahun 2006, pay out ratio sudah mendekati 25 persen yakni tepatnya 27,94 persen namun tiba-tiba dividen minta dinaikkan lagi, jadi pas 2007 pay out ratio jadi 28,55 persen.
Padahal selama tahun 2003-2006 pay out ratio cenderung menurun, tapi setoran dinaikkan lagi. Said mengharapakan target setoran bisa dikurangi karena banyak BUMN di sektor riil yang seharusnya tidak diambil dividen karena itu akan menghambat ekspansi BUMN.
Dia mencontohkan jika Pertamina dan BUMN perbankan diambil terus dividennya maka akan susah berkembang. "Petronas itu tidak pernah diambil dividen, maka dia bisa maju," ujar Said mencontohkan BUMN Malaysia itu.
(ddn/qom)











































