Hal ini dikatakan oleh Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS (Badan Pusat Statistik) Ali Rosidi dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jalan Dr Soetomo, Jakarta, Senin (6/10/2008).
"Akan tetapi masih terlalu cepat kalau kita katakan penurunan impor barang modal dan bahan baku akan terus terjadi dan akan menurunkan produksi. Bisa saja kenaikan impor barang konsumsi ini karena faktor seasonal karena pengusaha menilai pada bulan Agustus itu diperlukan peningkatan sedikit untuk impor barang konsumsi," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian diikuti oleh barang modal sebesar 14,96% atau sebesar US$ 13,435 miliar dan barang konsumsi sebesar 6,76% atau sebesar US$ 6,074 miliar," jelasnya.
Sementara untuk kinerja ekspor, sampai Agustus 2008, BPS mencatatkan ekspor ke AS masih 2 terbesar sebesar US$ 1,09 miliar, kedua terbesar setelah Jepang yang sebesar US$ 1,29 miliar.
"Ekspor kita ke Eropa dan AS sudah bagus kinerjanya, jadi tidak perlu dialihkan meskipun dalam situasi saat ini. Perkembangan ekspor kita masih didominasi oleh hasil pertanian seperti CPO, kakao, karet, kopi dan lainnya," katanya.
(dnl/ddn)











































