Desakan ini datang dari Irak, Iran, Lybia dan Nigeria. Menteri Perminyakkan Irak Hussain al-Shahristani menyatakan, penurunan harga minyak ini sudah menjadi perhatian beberapa anggota OPEC sejak Juni 2008.
"Saat ini kami terus mencermati pasar dan bila terus terjadi penurunan menjauhi US$ 90 per barel, kami akan mengambil tindakan," katanya seperti dikutip Reuters, Rabu (8/10/2008) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu juga dengan Menteri Perminyakan Nigeria Odein Ajumogobia yang mengungkapkan perlunya intervensi jika harga minyak terus menurun.
"Kemungkinan dibutuhkan intervensi untuk menyeimbangkan pasar, jika penurunan harga yang mencerminkan kelebihan pasokan ini terus berlanjut," katanya.
Pada September silam OPEC dalam pertemuan di Wina sudah memutuskan untuk memotong produksi minyaknya sampai 520.000 barel per hari. Organisasi Negara Pengekspor ini akan dijadwalkan akan kembali bertemu pada 17 Desember di Aljazair.
Seperti dikutip AFP (9/10/2008), pada perdagangan Rabu (8/10/2008), kontrak utama New York untuk minyak jenis light sweet pengiriman November turun US$ 1,11 menjadi US$ 88,95 per barel. Sementara di London, harga minyak jenis Brent North Sea untuk pengiriman November juga tergelincir US$ 30 sen menjadi US$ 84,36 per barel.
Penurunan harga minyak ini termasuk di luar dugaan karena stok minyak AS yang sedang tinggi. Departemen Energi AS menyatakan, stok minyak mentah AS naik 8,1 juta barel di minggu ketiga Oktober atau sekitar 2-3 juta barel di atas prediksi pasar.
Penurunan harga minyak ini menunjukkan melemahnya permintaan dari konsumen-konsumen utama dunia. Selain itu, keruntuhan bursa saham di beberapa negara juga membebani harga minyak karena para pedagang mulai khawatir permintaan akan turun. (lih/ir)











































