Meskipun dari pengalaman krisis tahun 1998 lalu, sektor riil termasuk IKM menjadi
sektor yang paling kuat menghadapi terpaan badai krisis moneter pada waktu itu.
"IKM itu sebagai penyangga, jangan sampai diabaikan. Skema kredit yang ada jangan
diubah-ubah," kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Departemen Perindustrian
Fauzi Aziz saat ditemui di kantornya, Jl Gatoto Soebroto, Jakarta, Kamis
(9/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya harap tidak ada pengetatan kredit IKM, jangan ada kenaikan suku bunga," serunya.
Ia merasa gembira hingga akhir September 2008 daya serap kredit usaha rakyat (KUR)
sudah mencapai Rp 10 triliun, artinya masih ada sisa Rp 4 triliun yang masih bisa
diserap hingga akhir tahun. "Saya perkirakan Desember, akan habis terserap dari Rp
14,5 triliun yang disiapkan," ucapnya.
Mengenai dampak rill terhadap produk ekspor IKM ke pasar AS seperti kerajinan dan
sejenisnya tidak akan terlalu berpengaruh signifikan karena sektor ini hanya
berkontribusi 5% dari total ekspor non-migas.
"Nilainya hanya US$ 500 juta saja. Yang penting adalah perlu diwaspadai, beberapa bulan kedepan penetrasi produk dari luar ke kita," kata Fauzi mengingatkan.
(hen/lih)











































