Defisit APBN AS Membengkak, Tanda Resesi Semakin Nyata

Defisit APBN AS Membengkak, Tanda Resesi Semakin Nyata

- detikFinance
Rabu, 15 Okt 2008 10:20 WIB
Defisit APBN AS Membengkak, Tanda Resesi Semakin Nyata
Washington - Defisit anggaran pemerintah AS untuk tahun fiskal 2008 mencatat rekor tertinggi. Bank Sentral AS (Federal Reserve) menilai, AS kini telah masuk ke resesi.

"Data ekonomi yang terakhir menyatakan bahwa perekonomian telah melemah dari yang diperkirakan pada kuartal III, bahkan kemungkinan menunjukkan tak ada pertumbuhan sama sekali," ujar Pimpinan Bank Sentral San Fransisc, Janet Yellen seperti dikutip dari AFP, Rabu (15/10/2008).

"Pertumbuhan pada kuartal IV sepertinya telah melemah, dengan kontraksi yang sepertinya sangat tipis. Tentu saja perekonomian AS terlihat seperti dalam resesi," tambahnya saat berbicara di Palo Alto, California.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yellen berbicara hanya beberapa jam setelah pemerintah mengeluarkan data defisit anggaran yang melonjak hingga 3 kali lipat untuk tahun fiskal 2008 yang berakhir 30 September.

Seperti dikutip dari Reuters, AS mencatat defisit hingga US$ 455 miliar pada tahun fiskal 2008, seiring melambatnya perekonomian yang mengurangi pendapatan sementara pengeluaran sangat besar. AS tercatat mengeluarkan belanja besar untuk perang, penyelamatan kegagalan bank dan masalah pengangguran.

Angka defisit itu sekaligus melebihi target pemerintah AS yang sebesar US$ 389 miliar yang disusun pada Juli lalu. Angka itu berarti mencapai 3 kali lipat dari defisit tahun fiskal 2007 yang mencapai US$ 162 miliar.

Defisit tahun fiskal 2008 ini sekaligus mengalahkan rekor defisit sebelumnya sebesar US$ 413 miliar yang dicetak pada tahun fiskal 2004. Kala itu, defisit membengkak akibat pemangkasan pajak dan belanja perang Irak.

Namun Depkeu AS tidak merevisi target defisit untuk tahun fiskal 2009 yang ditargetkan US$ 482 miliar, meski AS akan menggelontorkan sekitar US$ 1 triliun untuk menyelamatkan sistem perbankannya.

Analis menyatakan, resesi kemungkinan akan menyusutkan pendapatan AS ke depannya.

"Anggaran tahun 2008 sepertinya hanya sebuah rasa kecil tentang apa yang akan terjadi, yakni terkait intervensi Bank Sentral untuk menstabilkan pasar finansial dan perekonomian AS," ujar Lou Crandall, chief economist Wrightson ICAP.

"Sekarang ini, pada hakekatnya setiap sektor utama dari perekonomian sudah terpukul oleh guncangan ekonomi. Jumlah tenaga kerja sudah turun untuk 9 bulan terakhir, sementara pendapatan masyarakat yang seharusnya mengikuti inflasi ternyata tidak berubah sejak April. Kesejahteraan rumah tanggga secara substansial terus turun seiring turunnya harga perumahan dan pasar saham anjlok drastis," tambah Yellen.

Ia menambahkan, perekonomian AS dalam beberapa tahun ke depan masih menghadapi 'sebuah periode yang penuh misteri', namun jika dibandingkan masa Great Depression, maka perekonomian AS saat ini lebih tangguh.
(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads