Konflik Timur Tengah Meluas, Harga Minyak Langsung Melesat

Konflik Timur Tengah Meluas, Harga Minyak Langsung Melesat

Retno Ayuningrum - detikFinance
Senin, 30 Mar 2026 08:30 WIB
U.S. and Iranian flags, 3D printed oil barrels and rising stock graph are seen in this illustration taken March 23, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta -

Harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Senin (30/3/2026). Kenaikan ini dipicu oleh konflik Timur Tengah yang semakin meluas.

Melansir Reuters, harga minyak mentah jenis Brent melonjak US$ 3,09 atau 2,74% ke level US$ 115,66 per barel. Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan pada Jumat pekan lalu ditutup melesat 4,2%.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik di level US$ 102,56 per barel atau naik US$ 2,92 (2,93%).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lonjakan harga bulan ini tercatat sangat tinggi. Harga minyak Brent sudah naik 59% hanya dalam satu bulan. Angka ini menjadi kenaikan bulanan tertajam sepanjang sejarah, bahkan melampaui gejolak saat Perang Teluk tahun 1990 silam.

ADVERTISEMENT

Kenaikan ini tak lepas dari konflik Iran yang meluas hingga menutup Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Situasi kian memanas setelah kelompok Houthi dari Yaman meluncurkan serangan perdana ke Israel pada akhir pekan lalu. Serangan ini menandai babak baru perluasan perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Serangan ini juga menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keamanan jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah.

"Konflik tidak lagi terkonsentrasi di Teluk Persia, tetapi sekarang meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Ini adalah titik jalur pelayaran paling krusial di dunia," tulis Analis JP Morgan, Natasha Kaneva.

Data dari firma analitik Kpler menunjukkan Arab Saudi telah mengalihkan ekspor minyak dari Selat Hormuz ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, dengan volume mencapai 4,6 juta barel per hari. Namun, jika jalur Yanbu juga ikut terganggu akibat serangan yang makin intens, Arab Saudi terpaksa harus memutar jauh melalui pipa di Mesir menuju Mediterania (Egypt's Suez-Mediterranean/SUMED).

Meskipun ada upaya untuk gencatan senjata, serangan di kawasan tersebut justru meningkat akhir pekan lalu. Bahkan merusak terminal Salalah di Oman.

Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapannya untuk membalas jika terjadi serangan darat oleh AS. Iran menuduh AS sedang mempersiapkan serangan ke darat, meskipun AS mengaku sedang berupaya untuk negosiasi.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads