Melonjaknya cadangan minyak AS dan perhatian akan kekhawatiran resesi ekonomi dunia terus menekan harga minyak hingga level terendahnya sejak hampir Juni 2007.
Pada perdagangan Kamis (16/10/2008) di New York, kontrak minyak jenis light sempat merosot hingga US$ 68,57 per barel, sebelum akhirnya ditutup melemah US$ 4,69 poin ke level US$ 69,85.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini masih soal sejarah permintaan, dan kita bergerak turun setelah keluarnya laporan, ujar Amanda Kurzendoerfer, analis komoditas dari Summit Energy seperti dikutip dari Reuters, Jumat (17/10/2008).
"Kita melihat sangat besarnya cadangan bensin dan minyak mentah untuk pekan kedua ini. Hal ini mengkonfirmasi fakta bahwa permintaan benar-benar melemah di AS," tambahnya.
Cadangan minyak mentah di AS tercatat naik hingga 5,6 juta barel pada pekan lalu. Angka ini melebihi ekspektasi analis yang hanya memperkirakan kenaikan hingga 1,9 juta barel.
Berdasarkan data dari Pusat Informasi Energi AS, cadangan bensin juga naik 7 juta barel, atau 2 kali lipat dari proyeksi analis sebesar 2,9 juta barel. Secara total, permintaan selama 4 pekan terakhir anjlok hingga 8,9% dibandingkan tahun lalu.
ICP Turun ke US$ 80,83
Sementara itu, berdasarkan data yang dikutip dari situs Ditjen Migas Departemen ESDM, harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) hingga pertengahan Oktober, Rabu (15/10/2008), mencapai US$ 80,83 per barel.
Sedangkan ICP Januari-15 Oktober masih bertengger di atas US$ 100 per barel atau tepatnya US$ 108,60 per barel.
Selama September lalu, ICP mencapai US$ 99,06 per barel dan rata-rata ICP Januari hingga September 2008 sebesar US$ 111,75 per barel.
ICP sementara sampai pertengahan Oktober yang menunjukkan tren menurun ini, sejalan dengan penurunan harga minyak di pasar internasional. Di New York Mercantile Exchange, minyak jenis light sweet untuk pengiriman November, mencapai US$ 74,97 per barel, terendah sejak September 2007.
Sedangkan di London, minyak mentah Brent dari Laut Utara untuk pengiriman November juga turun menjadi US$ 70,98 per barel. (qom/qom)











































