Â
Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama Bosowa Corporation Erwin Aksa di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Sudirman, Jakarta, Senin (20/10/2008).
Â
"IPO masih kita jajaki. Tapi kondisi pasar lagi jelek begini gak mungkin kita IPO, tanggapan pasar tidak bagus. IPO bisa dilakukan setelah kami punya stragtegic partner," jelasnya.
Â
Dalam kerjasamanya nanti, Bosowa tetap akan mempertahankan porsi mayoritas. "Kita tetap akan mempertahankan posisi mayoritas. Mereka akan masuk sebagai minoritas untuk bantu memperbaiki operasional teknis, manajemen, dan teknologi," ujarnya.
Â
Bosowa sudah melakukan pembicaraan dengan tiga investor asing yaitu Lafarge dari Prancis yang saat ini memiliki Semen Andalas, kemudian Siam Cement yakni produsen semen terbesar dari Thailand serta YTL dari Malaysia.
Â
"Sekarang masih terlalu dini. tapi kami targetkan kuartal pertama 2009 sudah ditentukan siapa yang jadi partner Bosowa," imbuhnya.
Â
Keberadaan partner dari perusahaan semen multinasional ini diharapkan bisa mengangkat posisi Semen Bosowa yang kini menduduki peringkat empat nasional.
Â
Tahun ini produksi Semen Bosowa bakal mencapai 2,5 juta ton per tahun dengan pangsa pasar nasional sebanyak lima persen. Hingga September 2008, Erwin memperkirakan produksinya sudah mencapai 2 juta ton.
Â
Setelah memiliki strategic partner, Bosowa menargetkan bisa menaikkan produksi 2 juta ton lagi dalam empat tahun sehingga mencapai total 5 juta ton per tahun. Semen Bosowa sendiri mengalokasikan 98 persen produksi ke dalam negeri dan hanya 2 persen diekspor ke Timor Leste.
Â
Erwin menargetkan pendapatan Semen Bosowa sampai akhir tahun diperkirakan bisa menembus Rp 1,5 triliun dengan EBITDA sekitar 30 persen atau Rp 450 miliar.
Â
Sedangkan dana hasil IPO Bosowa ditargetkan US$ 100 juta yang sebagian akan dipakai melunasi utang.
Â
Semen Bosowa pada September 2008, baru saja mendapatkan restrukturisasi utang dari sindikasi perbankan Bank Mandiri, BNI, dan BTN senilai Rp 1,7 triliun.
Â
Menurutnya, utang jangka pendek sebesar Rp 500 miliar yang akan jatuh tempo pada tahun 2010 kemungkinan akan dilunasi lebih cepat tahun 2009. Sementara utang jangka panjang Rp 1,1 triliun baru akan jatuh tempo pada 2015. (ang/ir)











































