Stok Batubara Minim Masih Jadi Masalah PLN

Stok Batubara Minim Masih Jadi Masalah PLN

- detikFinance
Rabu, 05 Nov 2008 14:31 WIB
Stok Batubara Minim Masih Jadi Masalah PLN
Jakarta - Sebagian besar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN saat ini mengalami krisis pasokan batubara, bahkan ada yang sudah berhenti operasi. Betapa tidak, dari standar stok batubara sebanyak 30 hari, hampir semua stok batubara PLTU di bawah standar tersebut.
Β 
Demikian disampaikan Kepala Bidang Energi Batu bara PLN Pudji Widodo ketika dihubungi wartawan, Rabu (5/11/2008).
Β 
"Hampir semua stok PLTU di bawah 30 hari," katanya.
Β 
Ia merinci, pembangkit yang stok batubaranya kurang dari 30 hari antara lain PLTU yang dikelola Paiton Energy Company dengan stok 21 hari, PLTU Tanjung Jati dengan stok 23 hari (dari normal 1,5 bulan), dan Suralaya yang juga dibawah 30 hari.
Β 
Bahkan PLTU Cilacap menurut Pudji sempat berhenti operasi, meski kini sudah hidup lagi. Salah satu pemasok dominan PLTU Cilacap selama ini adalah Adaro yang memasok setengah dari total kebutuhan PLTU Cilacap.
Β 
"Namun Adaro hanya memasok 50% padahal dia memasok kebutuhan 50% Cilacap. Dia minta harga naik. Padahal sudah ada surat dari Dirjen kenaikan itu baru bisa untuk pengiriman 2009," katanya.
Β 
Sementara stok batubara PLTU Tanjung Jati B terganggu karena ada ganggu pasokan dari KPC. Namun sekarang kondisi sudah mulai normal. "Nampaknya feed stock yang ada dia pakai untuk mengganti pasokan yang telat untuk pasar ekspor," katanya.
Β 
Sumber permasalahan pengadaan pasokan batubara bagi pembengkit PLN adalah masalah harga. Beberapa kali pengadaan batubara gagal karena harga batubara yang dinilai PLN terlalu tinggi.
Β 
"Kita berharap harga murah tapi PLN tetap realistis mengikuti kondisi di pasar. Tapi kalau harganya tinggi kita sangat berat sekali," ujarnya.
Β 
Ia mencontohkan, ada penawaran dari pemasok dalam negeri dengan harga US$ 116 /ton, padahal harga di Barlow Jongkers harganya hanya US$ 94/ton.

"Harga US$ 116 itu untuk PLTU Paiton swasta Paiton Energy Company (PEC). Minggu lalu kami minta fasilitasi Dirjen untuk ketemu dengan buyer. Tenyata tidak ada respons sampai sekarang. Kita tidak mau ada pemadaman lagi," katanya. (lih/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads