Defisit APBN 2008 Bisa Turun Jadi 1,1%

Defisit APBN 2008 Bisa Turun Jadi 1,1%

- detikFinance
Kamis, 20 Nov 2008 14:19 WIB
Defisit APBN 2008 Bisa Turun Jadi 1,1%
Jakarta - Rendahnya realisasi belanja pemerintah ditambah adanya penerimaan yang melebihi target akan membuat defisit APBN hingga akhir 2008 ini kembali turun menjadi 1,1% (Rp 51 triliun) dari semula 1,3%.

"Realisasi belanja secara keseluruhan sudah 78% tapi kita proyeksikan penerimaan pajak itu 105% dari target, kita harapkan dengan program yang selesai, maka penyerapan belanja bisa 90%, jadi proyeksi defisit akhir tahun 1,1%," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Anggito Abimanyu di gedung depkeu, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (20/11/2008).

Sementara penyerapan belanja kementerian dan lembaga (KL) baru 68% dari besaran DIPA pada APBNP 2008. Penyebab rendahnya penyerapan KL ini karena banyak permasalahan pada satuan-satuan kerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi belanja keseluruhan kan bagus, DAU tepat waktu yang penting belanja modal, belanja barang dan belanja sosial bisa mencapai 90%," tutur Anggito.

Anggito mengatakan dengan total perkiraan defisit yang akan menurun sampai akhir tahun maka gambaran total APBNP 2008 menjadi sangat bagus.

"Penerimaan melebihi siklus target, meskipun ekonomi ada perlambatan, belanja kita juga mulai jalan sehingga bisa mempercepat penerimaan. Jadi uang yang ada di kas negara masih cukup besar," katanya.

Dengan gambaran yang bagus tersebut, APBN 2008 akan mengalami surplus. "Surplusnya bukan karena belanja, kan masih kontraksi, September sudah mulai ekspansi. Artinya yang dibelanjakan lebih besar dari pada yang ditarik. Tapi surplusnya besar meskipun masih indikasi bergerak terus sepanjang tahun," katanya.

Dengan belanja yang masih sebesar 78% berarti sampai akhir tahun masih ada 22% belanja yang harus diserap.

"Ada yang sudah bekerja atau jalan, pekerjaannya sudah berjalan tapi mungkin permasalahannya hanya cash lending, jadi penggelontorannya saja," ungkap Anggito.

Sementara untuk surplus anggaran nantinya akan menjadi Sisa Lebih Pemakaian Anggaran (Silpa) yang nantinya bisa dipakai untuk membiayai anggaran 2009.

"Karena 2009 kan situasinya tidak pasti, perlambatan pertumbuhan ekonomi akan mengoreksi target-target kita di 2009, tapi pokoknya kita akan memonitor perkembangan dari waktu ke waktu," katanya.

Selain itu di 2009 juga pemerintah menyiapkan paket-paket stimulus seiring dengan berlanjutnya krisis senilai Rp 12,5 triliun. Perinciannya Rp 10 triliun untuk pajak dan Rp 2,5 triliun untuk bea masuk.

"Jadi ini bisa dipakai sebagai stimulus untuk sektor rill yaitu di sektor pangan, energi, industri terpilih dan jasa publik," katanya. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads