RI Bakal Dapat Utangan US$ 200 Juta dari IDB

RI Bakal Dapat Utangan US$ 200 Juta dari IDB

- detikFinance
Kamis, 27 Nov 2008 13:40 WIB
RI Bakal Dapat Utangan US$ 200 Juta dari IDB
Jakarta - Pemerintah Indonesia mendapatkan komitmen pinjaman dari IDB (Islamic Development Bank) sebesar US$ 200 juta dengan skema liquid fund untuk tahun 2009.

Hal ini dikatakan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (27/1/2008).

"Dari IDB kita sudah dapat komitmen sebesar US$ 200 juta dalam bentuk liquid fund yaitu seperti modal kerja kalau  di perusahaan. Tapi modelnya memang mirip pinjaman siaga," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmat mengatakan, IDB selama ini memang sudah menjalin kerjasam dengan Indonesia karena Indonesia merupakan anggota. Mereka biasanya membantu untuk pembiayaan APBN dan non APBN atau dalam bentuk liquid fund.

"Liquid fund ini kegunaannya bisa untuk macam-macam, tidak ada persyaratan dan pencairannya bisa cepat," jelasnya.

Memang saat ini pemerintah juga sedang mengupayakan untuk mendapatkan sejumlah pinjaman siaga dari beberapa negara dan lembaga multilateral.

Dikatakan Rahmat, beberapa yang dijajaki oleh pemerintah adalah dari Bank Dunia, ADB (Asian Development Bank), Jepang, Perancis dan Australia.

"Tapi mengenai jumlahnya belum bisa saya katakan berapa yang diajukan pemerintah, apda waktunya akan diumumkan oleh Menteri Keuangan," imbuhnya.

Pinjaman siaga ini dijajaki oleh pemerintah untuk mengantisipasi kondisi pasar di tengah krisis keuangan yang diperkirakan akan lebih buruk tahun depan.

"Jadi apabila pembiayaan defisit lewat penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) sulit, maka pinjaman siaga ini bisa ditarik. Ini sudah diatur dalam pasal 23 UU APBN 2009. Agar masyarakat dan investor tetap yakin pada kondisi anggaran,"
jelas Rahmat.

Rahmat mengatakan pinjaman siaga ini ditarik jika memang ada situasi yang menjadi pemicu (trigger), antara lain kondisi market yang memburuk, atau makro ekonomi yang memburuk.

"Pinjaman siaga ini berbeda dengan program loan yang biasa didapatkan pemerintah, dan suku bunganya nampaknya juga akan berbeda (lebih tinggi), tapi yang pasti di bawah ongkos penerbitan SBN dimana yield (imbal hasil) saat ini cukup tinggi," tuturnya.

(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads