Harga daging asal Brazil diperkirakan lebih murah 30-35 % dibandingkan daging impor dari AS ataupun New Zealand. Sehingga hal ini akan mendorong terjadinya negosiasi dengan pihak Australia dan New Zealand.
Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (Nampa) Haniwar Syarief di Departemen Perdagangan, Selasa (16/12/2008).
"Selama ini kita tidak bisa negosiasi, jadi mereka (Australia dan New Zealand) suka-suka, posisi tawar kita lebih kuat kalau kita buka dari Brazil," jelasnya.
Dengan demikian ia merasa heran terhadap pihak-pihak yang menolak rencana impor daging dari Brazil. Meskipun ia mengakui alasan selama ini karena adanya dugaan daging Brazil mengandung penyakit termasuk penyakit mulut dan kuku (PMK).
Namun, menurut Haniwar hal ini bisa ditekan dengan adanya pelabuhan khusus dan penyedian dana khusus bila terjadi bencana.
"Kita prinsipnya menerima impor Brazil, selagi produk sehat dan halal, hasil dari tim independen cukup aman kok," ucapnya.
Ia mengatakan selama ini Brazil menjadi negara pengekspor terbesar daging ke 161 negara termasuk ekspor ke Malaysia dan Singapura. "Belum satu pun ada yang komplain," ucapnya.
Menurutnya selama ini Brazil menjadi negara yang memiliki volume terbesar dari sisi ekspor sedangkan Australia memiliki nilai yang tinggi dalam hal ekspor.
"Artinya memang Australia mahal, kalau harga Brazil beda bisa 30% sampai 35%, harga daging Australia itu Rp 40.000 sampai Rp 100.000 per kilo," jelasnya.
Selama ini kebutuhan daging dalam negeri menurutnya mencapai 400.000 ton per tahun. Bahkan ia memperkirakan permintaan untuk tahun depan akan cenderung menurun karena daya beli yang melemah, namun katanya itu bisa ditekan dengan menciptakan harga daging yang kompetitif melalui impor daging dari Brazil.
"Permintaan daging Indonesia nomor 13 dari bawah, sama dengan negara miskin lainnya, konsumsi per kapita hanya 1,7 kg per tahun, Brazil 60 kg per tahun, Malaysia 20 kg," paparnya.
Sebelumnya Presiden SBY pernah mengatakan bahwa pemerintah akan mencoba memperluas jankauan negara-negara yang menjadi eksportir daging ke Indonesia untuk menciptakan pilihan lain termasuk menciptakan harga daging yang lebih kompetitif di dalam negeri.
(hen/lih)











































