Demikian disampaikan Mendag Mari Elka Pangestu dalam keterangan pers usai pembukaan Tahun Indonesia Kreatif 2009 di JCC, Jakarta, Senin (22/12/2008).
Menurut Mari, jika industri kreatif pada 2006 menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp 100 triliun, dengan pertumbuhan 6% per tahun maka nilai ekonominya kini mencapai Rp 112 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Mari, membaiknya ketahanan industri kreatif ini bisa terlihat dari porsi asal film yang ditonton masyarakat. Pada tiga tahun yang lalu, 60% film yang ditonton masyarakat adalah film impor dan 50% sisanya adalah film Indonesia.
"Sekarang terbalik, 60% film indonesia, 40%-nya impor. Dan ini kita dorong terus," katanya.
Menurut Mari, industri yang menyerap 5,4 juta tenaga kerja ini terbilang tahan dari terpaan krisis. Karena selain bahan bakunya bisa didapat dari dalam negeri, pangsa pasarnya pun ada di dalam negeri.
"Untuk pasar dalam negeri sangat besar kontribusinya, karena dilakukan oleh pelaku ekonomi kreatif dalam negeri, sumber dan bahan bakunya dari dalam negeri. Pasar dalam negerinya sangat besar. Yaitu seluruh penduduk di bawah 29 tahun mencapai 165 juta orang. Inilah yang jadi pangsa pasar sebab ekonomi kreatif. Industri ini memang banyak digerakkan oleh anak muda, dan pasarnya juga anak muda," katanya.
Sementara beberapa kendala yang masih dirasakan hingga sekarang adalah akses permodalan, perlindungan HAKI, pengetahuan mengenai pasar, dan bagaimana menjangkau pasar, serta kualitas dan desain yang masih harus ditingkatkan.
(lih/ir)










































