Menneg BUMN Sofyan Djalil menjelaskan, tim ini akan melihat seberapa wajar besaran alpha yang harusnya digunakan saat harga tinggi maupun saat harga turun. Tentu saja dengan mempertimbangkan kemampuan APBN.
"Ini akan dilihat secara komprehensif oleh Depkeu karena ini menyangkut APBN. Oleh sebab itu ada tim yang akan melihat kompensasi kepada Pertamina yang wajar, harga tinggi ok tapi begitu harga jatuh konsep seperti itu tidak relevan lagi," katanya di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (24/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam tempo 3 minggu hingga satu bulan sudah harus selesai," katanya.
Bagi Sofyan, Pertamina sebagai badan usaha harusnya mendapatkan kompensasi sesuai pelayanan yang mereka berikan. "Sehingga tidak perlu Pertamina mensubsidi, karena subsidi itu kan tugasnya negara," tukasnya.
Sementara Sesmenneg BUMN Said Didu menjelaskan, sudah ada kesepakatan antara pemerintah dengan DPR bahwa alpha distribusi BBM tidak ditetapkan statis, melainkan bisa mengikuti harga minyak.
"Kalau harga minyak terlalu tinggi alpha turun, kalau naik sebaliknya. Atau ada dua cara biaya distribusi, yaitu di-fix biaya-biaya yang masuk alpha itu di-fix kan sekian. Alpha itu kan ada biaya transportasi, itu kan nggak pernah turun, itu dikaitkan dengan harga MOPS. Jadi ke persentase kalau harga turun biayanya kan turun, sementara distribusi ke SPBU kan fix dan keuntungan ke SPBU fix," katanya.
(lih/ir)











































