Bahkan pemerintah memintah kekurangan dana untuk percepatan program tersebut ditalangi dulu oleh Pertamina dan nantinya akan dipotong dari deviden.
Demikian disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro disela-sela silaturahmi Natal di rumah dinasnya, Widya Chandra, Jakarta, Kamis (25/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kebutuhan uangnya lebih dari yang sudah dianggarkan, dibayar dulu oleh Pertamina, nanti devidennya dipotong," kata Purnomo.
Namun masalah pengadaan tabung tambahan bukan hanya dana. Kapasitas pabrikan dalam negeri pun tidak menyanggupi untuk memenuhi kebutuhan sebanyak itu.
Akhirnya, Pertamina pun meminta hak impor tabung untuk memenuhi 40 juta tabung. "Tapi kalau masalah impor kan harus dibicarakan dengan Menteri Perindustrian juga. Maka kita minta itu dibicarakan," katanya.
Hambatan utama lainnya adalah kurangnya infrastruktur pendukung seperti Stasiun Pengisi Bahan Bakar Elpiji (SPBE). Kendala utama pembangunan SPBE ada di izin dari pemerintah daerah.
"Kalau dari Pertaminanya, mereka sudah buka selebar-lebarnya. Kalau Pemda kan memang harus didekati lebih baik lagi," katanya.
Meski sudah merencanakan berbagai hal, pemerintah mengakui percepatan konversi menjadi 2009 bukanlah hal yang mudah. Ini mengaca dari target konversi 2008 yang tidak tercapai.
"Kita akan selesaikan target 2009 . Tapi memang tidak mudah, karena sekarang saja tidak tercapai," katanya. (lih/ir)











































