"Itu baru pemikiran jadi mereka (SPBU) menghabiskan stok dulu, selama beberapa hari, kita masih hitung sebelum berapa hari, satu atau dua hari masih kita hitung," kata Direktur Pemaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal usai acara konferensi pers di Depo Plumpang, Jakarta, Minggu (4/1/2009).
Dalam sistem yang baru ini, lanjut Faisal, rencananya delivery order (DO) atau penebusan dari SPBU ke Pertamina dalam beberapa jam sebelum penurunan harga BBM akan diterapkan harga baru. Sedangkan stok lama yang tersedia di SPBU harus dihabiskan terlebih dahulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Dirut Pertamina Ari Soemarno mengatakan sistem yang baru ini pada prinsipnya untuk memberikan jalan keluar dari kondisi fluktuasi harga minyak dunia yang memungkinkan akan terus mengalami penurunan sehingga mendorong turunnya harga BBM.
"Kita bahas kedepannya untuk fluktuasi itu, tidak ada yang dirugikan. Kita akan buat sistem yang adil dan memuaskan semua pihak," jelas Ari.
Namun Pertamina merasa bingung dengan kalangan pengusaha SPBU, karena selama ini ketika harga akan naik para pengusaha SPBU ramai-ramai meningkatkan penebusannya dan sebaliknya jika harga turun. "Kalau mau naik, pengambilannnya itu pun ikut naik," ketus Ari.
Ketua Hiswana Migas M. Nur Adib menambahkan kalau sistem yang baru ini telah diterapkan maka pihaknya sebagai pengusaha SPBU tidak lagi memiliki alasan untuk mengaku rugi akibat penurunan harga BBM.
"Kalau terjadi penurunan, 48 jam sebelumnya bagi SPBU untuk bisa menebus dengan harga baru sehingga tidak ada alasan uuntuk SPBU rugi karena penurunan herga kerena dia diberi kesempatan untuk menebus dengan harga baru, stok lamanya dihabiskan dulu," katanya.
Dengan sistem ini, ia optimistis masalah sebelumnya tidak akan terulang lagi, sehingga SPBU dapat melayani masyarakat dengan baik dan tidak ada alasan untuk merugi. (hen/dro)











































