Penurunan Harga Komoditas Biang Keladi Defisit 2009

Penurunan Harga Komoditas Biang Keladi Defisit 2009

- detikFinance
Rabu, 21 Jan 2009 15:16 WIB
Penurunan Harga Komoditas Biang Keladi Defisit 2009
Jakarta - Anjloknya harga komoditas diperkirakan menjadi pemicu utama naiknya proyeksi defisit APBN 2009 menjadi 2,5%. Penerimaan negara dari pajak diperkirakan anjlok tajam tahun ini.

"Perkiraan defisit APBN 2009 sebesar 2,5% terutama disebabkan oleh anjloknya harga komoditas," ujar pengamat ekonomi Faisal Basri dalam acara di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (21/1/2009).

Menurut Faisal, ada beberapa anggapan yang beranggapan bahwa naiknya perkiraan defisit APBN 2009 disebabkan oleh melonjaknya rencana pengeluaran negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya tidak seperti itu. Rencana pengeluaran APBN 2009 tidak melonjak drastis," ujar Faisal.

Faisal menjelaskan, apa yang disebut defisit APBN adalah disebabkan pengeluaran negara lebih besar dari penerimaan negara.

"Peningkatan defisit bisa disebabkan dua hal yaitu, pengeluaran membengkak atau sebaliknya, penerimaan yang menurun," ujar Faisal.

Faisal mengatakan, dalam skema defisit APBN 2009, bukan pengeluaran negara yang membengkak. Namun sebaliknya, penerimaan negara yang menurun drastis.

"Penurunan terutama dari pemasukan pajak, yaitu pajak komoditas. Tahun 2008, harga komoditas naik tinggi sekali, sehingga penerimaan pajak negara naik drastis. Itulah yang menyebabkan defisit APBN 2008 bisa sebesar 0,1%," papar Faisal.

Namun di tahun 2009, seiring dengan anjloknya harga-harga komoditas lantaran terkena imbas perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, memberi pengaruh besar pada penerimaan pajak negara dari sektor komoditas.

"Jadi akar masalahnya ada pada anjloknya harga komoditas, yang menyebabkan penerimaan pajak komoditas menurun drastis tahun ini. Jadi defisit besar bukan karena negara menggenjot pengeluaran, tapi karena penerimaannya anjlok," jelas Faisal.

Ia juga mempertanyakan dengan defisit yang naik mengapa justru stimulus ekonomi yang diberikan justru turun dari Rp 50 triliun menjadi Rp 27.5 triliun.

"Seluruh negara melakukan stimulus fiskal yang menyebabkan defisit meningkat. Tapi di kita tidak, defisit meningkat dari 1% ke 2,5%. Tapi stimulus turun dari Rp 50 triliun ke Rp 27,5 triliun. Padahal peningkatan defisit bukan karena pengeluarannya naik, tapi karena penerimaannya anjlok, jadi bukan untuk stimulus. Pemerintah jujur menyatakan angka, tapi dibalik angka itu yang kita harus cermati," jelasnya.

(lih/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads