BI Tetap Pede Soal Pertumbuhan Ekonomi RI

BI Tetap Pede Soal Pertumbuhan Ekonomi RI

- detikFinance
Kamis, 22 Jan 2009 12:20 WIB
BI Tetap Pede Soal Pertumbuhan Ekonomi RI
Jakarta - Negara-negara besar Asia mencatat pertumbuhan ekonomi yang memburuk. Namun Bank Indonesia (BI) meyakini Indonesia akan tetap mencatat pertumbuhan yang kuat dengan dukungan pasar domestik yang masih lumayan.

"Kalau stimulus yang direncanakan jalan, kita masih memakai angka tersebut 4,5-5,5%," kata Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (22/1/2009).

Hal senada disampaikan Gubernur BI Boediono yang menyatakan tetap memegang target pertumbuhan 5,7-5,9% untuk kuartal IV-2008.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masih kita pegang, saya kira tunggu saja. Kalau dilihat negara lain anjloknya memang cukup besar seperti Singapura, tapi kalau kita lihat market domestik kita kan lumayan. Kita lihat 6% untuk 2008," ujarnya singkat.

Seperti diketahui, Korea Selatan, China dan Singapura telah mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan pelemahan.

Korsel mencatat pertumbuhan ekonomi hanya 2,5% di tahun 2008, dibandingkan 5% yang dicatatnya pada tahun 2007. Bahkan untuk kuartal IV-2008, perekonomian Korsel minus hingga 3,4% dibandingkan pertumbuhan 3,8% yang dicatat pada kuartal III-2008. Ini adalah angka terburuk sejak kuartal I-1998, saat perekonomian Korsel turun hingga 7,8% secara quarter on quarter (qtoq).

Sementara Singapura memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 2-5% di tahun 2009. Selama tahun 2008, perekonomian Singapura diperkirakan hanya tumbuh 1,2% atau turun tajam dibandingkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 yang sebesar 7,7%.

Demikian pula China yang mencatat pertumbuhan ekonomi mulai melambat. Pada tahun 2008, perekonomian China hanya tumbuh 9%, atau hanya satu digit untuk pertama kalinya sejak 6 tahun terakhir.Β  Pada tahun 2007, China mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 13%.

Jepang belum mengumumkan secara resmi angka pertumbuhan ekonomninya. Namun Jepang juga menderita akibat krisis, yakni pada Desember, ekspornya merosot hingga 35%. Selama Desember, Jepang mencatat defisit perdagangna hingga 320,7 miliar yen, dibandingkan surplus 866,9 miliar yen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara total, ekspor turun hingga 3,4% di tahun 2008. Sementara surplus perdagangan Jepang di tahun 2008 tercatat anjlok hingga 80% dibandingkan surplus perdagangan tahun 2007 yang mencapai 2,16 triliun yen. Padahal Jepang dalam sejarah selalu menikmati surplus perdagangan yang besar.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads