Selain itu, sebagian besar produsen di China mulai menutup pabriknya sejak awal Januari 2009 karena perayaan Imlek di negara tirai bambu tersebut hingga bulan Februari.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo) John Manoppo saat ditemui di gedung Departemen Perindustrian, Jumat (23/1/2009).
"Saya baru pulang dari China, pabrik LHE tutup Januari-sampai Februari 2009," katanya.
Menurut John, indikasi penurunan tersebut sudah berlangsung sejak bulan Desember 2008, rata-rata jumlah impor LHE pada 2008 mencapai 10 juta unit sedangkan pada bulan Desember hanya 2,3 juta LHE.
"Asal pemerintah konsisten dengan sistem pengetatan dengan importir terdaftar maka produsen dalam negeri punya peluang mengisi pasar yang ditinggalkan LHE impor," katanya.
Ia yakin dengan mulai efektifnya pengetatan impor, jumlah LHE impor akan turun hingga 50%. Dari kebutuhan LHE pada tahun 2008 lalu sebanyak 120 juta diantaranya 30 juta diisi oleh produsen lokal dan 90 juta dari LHE impor jadi 120 juta.
"Tahun ini kebutuhan LHE sebanyak 160 juta paling banter impor itu hanya 80 juta saja, memang kurangnya sedikit tapi pasarnya juga membesar," jelasnya.
John menjelaskan, dengan adanya pengetatan tersebut sekarang ini sudah ada indikasi beberapa importir LHE menanyakan untuk membuat pabrik. Setidaknya hingga kini sudah ada 3 importir yang menjajaki pembuatan pabrik.
"Mereka itu saya minta untuk partner saja dengan 15 pabrik yang ada sekarang, dengan kapasitas utilisasi 30 juta dengan kapasitas penuh 200 juta unit," katanya.
Beberapa tahun ini jumlah impor LHE terus meningkat misalnya pada tahun 2006 lalu jumlah impor sebesar Rp 56,9 juta, tahun 2007 sebanyak 71,7 juta dan 95,5 juta pada 2008.
Pada tahun 2008 jumlah impor bulan Januari sebesar 10,1 juta, Februari 3,6 juta, Maret 4,8 juta, April 10,5 juta, Mei 8,02 juta, Juni 9,3 juta, Juli 10,4 juta, Agustus 11,3 juta, September 8,04 juta, Oktober 8,7 juta, November 8,1 juta dan Desember 2,3 juta. (hen/ir)











































