Iran Hantam Pipa Minyak, Arab Saudi Kehilangan 700 Ribu Barel/ Hari

Iran Hantam Pipa Minyak, Arab Saudi Kehilangan 700 Ribu Barel/ Hari

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 11 Apr 2026 14:15 WIB
Sempat Anjlok, Kini Harga Minyak Mentah Dunia Menguat Berkat AS-Rusia
Ilustrasi.Foto: DW (News)
Jakarta -

Pipa minyak strategis milik Arab Saudi yang mengarah ke Laut Merah diserang Iran. Serangan ini menyebabkan berkurangnya aliran minyak sekitar 700.000 barel per hari.

Serangan Iran menghantam stasiun pompa di jalur pipa East-West. Pipa ini mengalirkan minyak dari fasilitas pengolahan di dekat Teluk Persia ke terminal ekspor di Laut Merah, yakni Yanbu.

Dilansir dari CNBC, Sabtu (11/4/2026), Arab Saudi mengandalkan pipa ini yang memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari sebagai jalur utama ekspor minyak, karena tidak bisa menggunakan Selat Hormuz karena ditutup Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan terhadap fasilitas produksi di Manifa dan Khurais juga memangkas produksi Arab Saudi sekitar 600.000 barel per hari. Selain itu, beberapa kilang minyak turut menjadi sasaran serangan.

ADVERTISEMENT

Kerusakan pada infrastruktur energi Arab Saudi ini memperparah gangguan besar terhadap pasokan minyak global yang sebelumnya sudah terdampak oleh serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Amerika Serikat (AS) sempat menyepakati gencatan senjata dua minggu dengan imbalan Iran mengizinkan kapal melintas di selat tersebut. Namun, CEO perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab menyatakan jalur itu masih belum benar-benar terbuka untuk lalu lintas.

Iran menegaskan bahwa kapal harus mendapatkan izin terlebih dahulu untuk melintas di Selat Hormuz, kata Sultan Ahmed Al Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Co.

"Jadi mari kita tegaskan: Selat Hormuz tidak terbuka. Aksesnya dibatasi, diatur, dan dikendalikan," kata Al Jaber dalam unggahan di media sosial.

Selat Hormuz menghubungkan produsen minyak di kawasan Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ke pasar global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini sebelum konflik pecah pada 28 Februari. Produsen minyak di kawasan Teluk telah memangkas sekitar 13 juta barel per hari produksi akibat gangguan di selat tersebut.

(ily/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads