Demikian dikatakan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto saat berbincang dengan detikFinance, Minggu (25/1/2009)
Menurut Pri Agung, bisnis ini dinilai tidak ekonomis karena investasi awal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini relatif tinggi. Untuk memulai bisnis elpiji memang tidak bisa main-main karena investasi awal yang dibutuhkan cukup besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, jika masuk ke bisnis ini, pemain swasta harus bersaing dengan harga jual elpiji Pertamina yang masih di bawah keekonomian.
Harga jual elpiji 3 kg saat ini adalah Rp 4.250 per kg dan elpiji 12 kg adalah Rp 5.750 per kg. Dengan harga keekonomian sekitar Rp 6.000 per kg, maka pemerintah masih mensubsidi elpiji 3 kg sebesar Rp 1.750 per kg dan Pertamina mensubsidi elpiji 12 kg sebesar Rp 250 per kg.
"Dengan harga minyak US$ 45 per barel, berarti CP Aramco-nya sekitar US$ 39 per metrik ton. Berarti harga keekonomiannya sekitar Rp 6.000 dan itu sudah termasuk pajak. Jadi harga jual masih dibawah harga keekonomian," kata Pri Agung.
(epi/lih)










































