Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Swakarsa Sinarsentosa, Arifin Cahyono kepada wartawan seusai penandatangan Nota Kesepahaman dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta, Selasa, (3/2/2009).
"Secara umum krisis global belum berpengaruh pada sektor industri kelapa sawit. Belum ada penurunan permintaan," kata Arifin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masih terserap pasar semuanya. Pada tahun 2009 ini kita menargetkan 120 ribu ton/tahun," kata Arifin didampingi Dekan Fakultas Kehutanan Prof Dr. Moh. Naiem.
Dia mengatakan pihaknya ingin mengubah citra perkebunan kelapa sawit itu sebagai perusahaan yang merusak hutan dan lingkungan. Hal itu dilakukan dengan menggiatkan konservasi, pemberdayaan masyarakat dan membuka fasilitas wisata
lingkungan.
"Semakin luas pola biodiversifikasi lahan konservasi akan semakin positif dampaknya untuk perbaikan lingkungan dan penyelamatan flora dan fauna," katanya.
Menurutnya, PT Swakarsa yang ada di Kabupaten Kutai Timur, Kaltim hutan ini sengaja mengandeng Fakultas Kehutanan UGM untuk mengembangkan manajemen konservasi biodiversitas flora dan fauna disana. Perusahaan ini juga berkomitmen
mendapatkan sertfikat RSPO (Roundtable o Sustainable Palm Oil) yang berprinsip memproduksi sawit secara lestari.
"Di luar kelapa sawit sering dianggap sebagai perusak hutan dibanding lahan kedelai yang ditanam di negara-negara besar. Kita idak bisa menyikapi kritikan dengan sentimen dan emosi bisnis saja. Perusahaan sawit membenahi kritikan tersebut dengan melakukan biodiversifikasi," pungkas dia.
(bgs/qom)











































