Ekonom Econit Rizal Ramli membuat perkiraan yang ekstrim yakni pertumbuhan ekonomi hanya menyentuh 3,3% di tahun ini.
"Tahun 2009 ini tahun pengkerutan, the year of retrenchment dibidang ekonomi," kata Rizal dalam acara Economic Outlook tahun 2009, di Jakarta, Rabu (4/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai investasi, dipastikan akan banyak investor yang banyak membawa modalnya pulang kampung ke negara asalnya untuk kepentingan ekonomi negaranya masing-masing.
"Jadi jangan berharap di 2009 akan ada investasi portofolio ke Indonesia, apalagi ada pemilu, investor sambil menunggu kebijakan pemerintah baru," jelas pria yang sudah mencalonkan diri sebagai presiden ini.
Dari sisi konsumsi, Rizal mengatakan pada kurun waktu 10 tahun lalu jumlah konsumsi domestik mencapai Rp 5100 triliun, selama 10 tahun itu juga terjadi kenaikan konsumsi hingga 5,3 kali lipat yang didukung oleh komoditi, pertambangan dan hot money.
"Ketiganya akan anjlok di 2009, tingkat konsumsi yang tinggi sekarang sulit untuk berlanjut lagi di 2009 atau 2010," katanya.
Rizal menambahkan, hal-hal tadi semakin diperparah dengan adanya proyeksi defisit transaksi berjalan hingga minus US$ 3,1 miliar di 2009, padahal tahun 2008 lalu sempat surplus US$ 821 juta.
"Defisit ini akan menekan rupiah ke titik yang paling lemah," ucapnya.
Hal yang sama pun akan terjadi pada defisit di neraca modal yang diperkirakan hingga mencapai US$ 5 miliar.
"Kondisi seperti itu ekonomi Indonesia akan mengalami hard landing di tahun ini, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya 3,3%," imbuhnya.
Stimulus Pemotongan Pajak Salah Kaprah
Mantan Menko Perekonomian ini juga menilai kebijakan stimulus ekonomi yang direncanakan sebesar Rp 71 triliun untuk tahun 2009 dinilai salah kaprah, sehingga tidak akan berpengaruh signifikan bagi pemulihan ekonomi dari dampak krisis dan penciptaan lapangan kerja.
Dana sebesar Rp 71 triliun justru sebesar 80% digunakan dalam bentuk potongan pajak, padahal seharusnya yang bisa dilakukan pemerintah adalah melakukan pengeluaran langsung.
"Umumnya yang punya NPWP itu kelas menengah keatas, tapi mereka juga masih hati-hati untuk mengeluarkan uangnya efek penggandanya akan semakin kecil," kata Rizal.
Ia merasa heran terhadap pola stimulus yang diterapkan Indonesia yang sangat berbeda dengan negara lain. Rizal mencontohkan seperti negara AS justru menerapkan stimulus pengeluaran langsung yang difokuskan pada penggunaan belanja produk dalam negeri.
"Dari total stimulus 80% dalam bentuk tongan pajak, efeknya relatif kecil, saya tidak tahu mereka (pemeintah ) belajar dari mana," ketusnya.
Sementara itu ekonom Econit Hendri Saparini menambahkan bahwa salah satu kaprah pemerintah menerapkan stimulus adalah dalam kasus bantuan Bea masuk di tanggung pemerintah (BM DTP) untuk produk bahan baku susu yang justru akan mendorong Industri dalam negeri berlomba-lomba mengimpor produk luar negeri.
"Ini tidak ada efeknya bagi penciptaaan lapangan kerja," ujar Rizal lagi.
(hen/qom)











































