Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat malam (7/2/2009).
"Menurut saya cukup reasonable (inflasi 6%). Cukup bisa dipahami, dulu kita buat 6,2% pada saat harga-harga komoditas tidak mengalami penurunan yang cukup drastis," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi saya pikir, itu mestinya tidak membuat masalah, atau kemungkinan itu ada," ujarnya.
Menurut Sri Mulyani, harga komoditas yang menurun tidak lagi menjadi faktor kuat pendorong inflasi di 2009. Namun pelemahan nilai tukar menjadi faktor kuat pendorong inflasi.
Pemerintah memang mengubah asumsi nilai tukar rupiah di APBN 2009 dari Rp 9.400/US$ menjadi Rp 11.000/US$ karena belakangan ini rupiah bergerak di kisaran Rp 11.000/US$.
"Mungkin ada sedikit pengaruh dari nilai tukar, karena dulu asumsinya Rp 9.400/US$, sekarang Rp 11.000/US$. Ini mempengaruhi dampak dari imported inflation kemudian mempengaruhi inflasi," katanya.
"Tapi overall, saya rasa 6,2% ke 6% tidak ada masalah. Malah lebih bagus. Harusnya mungkin saya berharap lebih rendah dari itu karena Gubernur BI pernah menyampaikan dalam Bankers Dinner, inflasi 5-7% dengan kemungkinan lebih banyak ke bawahnya," paparnya.
Memang Bank Indonesia sendiri memproyeksikan kisaran inflasi sepanjang tahun 2009 adalah sebesar 5-7%, dan Bank Indonesia mengindikasikan inflasi dapat berada pada kisaran bawah dari proyeksi tersebut.
Ini karena terus turunnya imported inflation sejalan dengan turunnya harga-harga komoditas internasional. (dnl/dnl)











































