Harga yang murah itu tidak terlepas dari penerapan kenaikan besaran potongan pajak (tax rebate) sebesar 17% oleh pemerintah China.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, saat ditemui di gedung Departemen Perindustrian, Selasa (10/2/2009) petang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eddy memperkirakan membanjirnya produk sepatu asal China memungkinkan terjadi pada 2 bulan kedepan ketika permintaan sepatu dalam negeri mulai menanjak (high season). Pola masuknya produk dumping sepatu asal China bisa bermacam-macam mulai dari pelarian nomor HS, penyelundupan pelabuhan tikus dan lain-lain.
Jika kondisi ini terjadi, menurut Eddy, produsen sepatu dalam negeri akan semakin terpuruk yang berujung pada pemangkasan produksi karena produk dalam negeri tak kuasa menahan serbuan produk sepatu asal China.
"Perkiraan saya angkanya bisa mencapai 227 juta pasang, dengan asumsi 60% adalah produk impor dari konsumsi sepatu dalam negeri, dengan nilai US$ 600 juta," katanya.
Untuk itu, ia mengharapkan agar penerapan pengetatan impor untuk 5 produk tertentu bisa ketat dilaksanakan agar celah produk dumping sepatu asal China bisa ditekan.
Sementara itu Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengakui efek dumping bagi produk sepatu dalam negeri
akan membuat daya saing produk sepatu lokal semakin tergerus.
Bahkan Ansari menambahkan fenomena produk dumping asal China bukan hanya mengancam produk sepatu lokal namun sudah menghantam produk dalam negeri lainnya seperti produk baja, terigu dan lain-lain.
"Memang sekecil apapun selisih harga, mau tidak mau akan membuat produk dalam negeri akan kalah bersaing," ucap Ansari.
(hen/qom)











































