Salah satu buktinya adalah adanya kebijakan pelarangan ritel asing untuk masuk ke India. Tanpa asing, bisnis ritel tetap berkembang pesat.
Saking pesatnya bisnis ritel disana, pembangunan mal-mal atau pusat belanja berukuran besar berjalan pesat, bahkan dalam setahun India mampu membangun 300 sampai 400 mal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyampaikan hal itu saat bertukar pengalaman mengikuti konferensi peritel dunia di Mumbai India, pada acara konferensi pers, Jakarta, Kamis malam (12/2/2009).
Hari mengatakan pemerintah India sadar bahwa sektor ritel telah menjadi ujung tombak ekonomi di India sehingga kebijakan yang dikeluarkannya pun sangat pro dengan kepentingan peritel.
Berbeda dengan Indonesia, ia menilai pemerintah belum sadar bahwa sektor ritel sangat penting. Seharusnya ritel harus menjadi ujung tombak ekonomi, karena selama ini 70% kegiatan konsumi nasional berasal dari sektor ritel.
Untuk itu, peningkatan daya beli masyarakat sangat penting untuk menggenjot sektor ritel dan hal ini tentunya sudah menjadi kewajiban pemerintah. Selain itu, kebijakan yang dibuat pemerintah harus konsisten dan tidak mencampuri lebih dalam soal bisnis ritel.
"Industri ritel yang penting, justru tidak ada perhatian. Pejabat kita belum mengerti ritel, Indonesia masih ketinggalan jauh," ucapnya.
Ia mencontohkan saat ini Indonesia menjadi negara satu-satunya yang mengatur mengenai trading term, yang merupakan praktek bisnis yang seharusnya pemerintah tidak ikut campur yaitu hubungan antara pemasok dengan peritel.
(hen/qom)











































