Mega Jualan Angka 28, Mencontoh China

Mega Jualan Angka 28, Mencontoh China

- detikFinance
Jumat, 13 Feb 2009 13:23 WIB
Mega Jualan Angka 28, Mencontoh China
Jakarta - Tak puas dengan kebijakan ekonomi pemerintah saat ini, PDI-P mulai menjual program ekonominya jika terpilih pada pemilu 2009. Program ini diberi nama kebijakan ekonomi PDIP 28, yaitu 2 prioritas dan 8 langkah strategis.
 
"Kebijakan ekonomi PDI Perjuangan 28, dengan 2 prioritas misi dan 8 langkah strategis," kata Ketua Umum PDIP Megawati dalam pemaparannya acara Parpol Menjawab Pengusaha Bertanya. di Hotel Four Season, Jakarta, (13/2/2009).
 
2 misi itu antara lain :
 
  1. Meningkat kesatuan bangsa
  2. Meningkat kesejahteraan
 
Sedangkan 8 langkah itu antara lain:
 
  1. Memperkuat ketahanan dan kedaulatan negara
  2. Memperkuat ketahanan pangan dan energi
  3. Memperkuat kedaulatan keuangan
  4. Memperkuat pengembangan pendidikan dan teknologi
  5. Memajukan kesehatan dan ksejehatrean keluarga
  6. Memajukan usaha nasional memperkuat UMKM
  7. Memajukan pedesaan sebgaai basis ekonomi kerakyatan
  8. Peningkatan pelayanan pemerintah dan penegakan hukum.
 
"Kebijakan 28 itu menjadi pekerjaan rumah bersama, itu lanjutan yang pernah kita kerjakan beberapa waktu lalu," ujar Mega.
 
Ia mencontohkan, untuk memajukan perkenomian nasional maka langkah yang harus dilakukan pertama adalah dengan memajukan pedesaan terlebih dahulu, termasuk dalam membuat kebijakannya harus mementingkan pembangunan pedesaan.
 
"Pengalaman China, yang pembangunan ekonominya mulai dari pedesaan," ucapnya.
 
Pemerintah Lambat Antispasi Krisis
 
Selain itu Megawati juga menilai pemerintah lambat menangani krisis global yang sekarang ini terjadi. Kelambanan pemerintah dapat dilihat dari tidak stablilnya parameter makro ekonomi mencakup nilai tukar, inflasi dan lain-lain.
 
Kondisi yang tidak stabil itu mecerminkan runtuhnya pilar dasar pembangan yaitu stabilitas.
 
Ia mencontohkan inflasi pada awal tahun 2008 tidak terkontrol, rupiah depresiasi sampai Rp 11.000/US$, harga saham yang anjlok dan lain-lain.
 
"Itu diperparah oleh ketidiaksiapan pemerintah lambat dan salah langkah, rupiah sempat Rp 13.000/US$ paling lemah 10 tahun terakhir, depresiasi 35%," kata Mega.
 
Anjloknya rupiah dikatakanya justru lebih rendah dari anjoknya nilai tukar negara lain seperi euro yang hanya turun 28%, ringgit yang turun 15%, dollar Singapura 13%
 
Angka IHSG yang sempat mencapai 1.100 atau terkoreksi hingga 60%, yang koreksi terparah sejak 10 tahun. Hal ini diperparah dengan banyak larinya modal asing yang merupakan bentuk ketidakberdayaan pemerintah. (hen/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads