Gejolak nilai tukar rupiah yang terus melemah dan susah untuk diprediksi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan inflasi terjadi di Februari ini.
"Kemungkinan inflasi dapat terjadi di bulan ini, walaupun sangat rendah, hal ini dipicu karena nilai tukar rupiah yang belum stabil dan harga kebutuhan pokok yang juga belum turun," ujar pengamat ekonomi dari INDEF (Institute for Development of Economics and Finance), Aviliani, ketika dihubungi oleh detikFinance, Minggu (22/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inflasi di Februari ini sangat rendah, mungkin berada di kisaran 0,01%," jelasnya.
Senada dengan Aviliani, pengamat ekonomi Chief Research Officer dari CAPITAL PRICE Roy Sembel mengatakan, inflasi kemungkinan bakal terjadi namun sangat rendah.
"Kurs yang terus bergejolak di bulan Februari ini cukup menghawatirkan terhadap rupiah, itulah salah satu faktor yang menyebabkan inflasi di bulan ini," ujarnya.
Roy juga mengatakan bahwa penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membawa dampak yang cukup baik terhadap penurunan harga kebutuhan pokok.
"Akan terjadi tarik menarik diantara kedua faktor tersebut, penurunan BBM yang bisa membuat deflasi dan kurs yang tidak stabil cenderung mengakibatkan inflasi," jelas Roy.
Meski sangat susah untuk diprediksi, namun Roy inflasi di Februari ini tidak jauh berada di bawah kisaran 0,1%.
(lih/lih)











































