Hal itu disampaikan Atase Pertanian KBRI Roma Dr Erizal Sodikin kepada detikcom petang ini, Selasa (24/2/2009), waktu Eropa Tengah (CET).
Menurut Erizal, persiapan menuju ke arah itu telah dilakukan oleh Kepala Bagian Penelitian Dr. Soetanto Abdoellah dan Peneliti Utama PPKK Dr. Surip Mawardi dalam kunjungan ke Universitas Trieste pada 19–20/2/2009 baru-baru ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan bahwa dalam pertemuan di Trieste itu juga mengemuka bahwa ke depan sertifikasi jenis kopi yang diperdagangkan tidak saja berdasarkan uji fisik, citarasa, senyawa kimia serta proses budidayanya saja, tetapi bisa jadi pembeli kopi menginginkan sertifikasi berdasarkan uji DNA yang lebih valid dan sulit untuk dimanipulasi.
Menanggapi hal itu Erizal mengatakan bahwa pemetaan Kopi Arabika Indonesia berbasis analisa DNA akan menjaga plasma nutfah kopi Arabika Indonesia dari pemalsuan.
"Jika pada saatnya nanti sistem perdagangan menghendaki sertifikasi lebih valid melalui jejak rekam DNA ini, maka Indonesia melalui PPKK Jember sudah siap menjadi pelopor," ujar Erizal yang mendampingi kedua pejabat PPKK Jember ke Trieste.
Meskipun demikian, tambah Erizal, kerjasama ini perlu selalu dimonitor oleh institusi terkait, khususnya Litbang Deptan sehingga hak dan kepentingan Indonesia tidak dirugikan.
"Khususnya terkait dengan telah ditetapkannya Traktat tentang plasma nutfah dalam International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (ITPGRFA), terutama aspek benefit sharing," demikian Erizal. (es/es)










































