Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 28 Feb 2009 10:02 WIB

Pemerintah Undang Investor Kembangkan Biodiesel Biji Nyamplung

- detikFinance
Bogor - Pemerintah melalui Departemen Kehutanan (Dephut) sedang mengembangkan sumber energi alternatif  biodiesel dari buah Nyamplung (calophyllum inophyllum) atau yang biasa disebut Bintangur.

Untuk tahap awal Dephut akan melakukan pilot project penanaman 10 juta biji Nyamplung seluas 10.000 hektar di Madura pada tahun ini.

Kepala Badan Litbang Dephut Tachrir Fathoni mengatakan pilot project pengembangan biji Nyamplung akan mulai dicanangkan pada 13 Maret 2009 nanti, melibatkan pemerintah daerah dan lain-lain. Dari pilot project tersebut diharapkan sudah ada produksi biji Nyamplung secara massal pada tahun 2012.

Selain itu untuk memperlancar dan melindungi aspek pengembangan dan pengolahan biji Nyamplung dari pencurian hak patent, saat ini Dephut sedang mengurus proses patent yang akan rampung pada tahun ini.

"Dengan adanya patent, kalau diambil oleh produksi oleh Industri, maka  pemerintah  bisa dapat royalti, bisa memotifasi untuk peneliti," katanya dalam acara orientasi wartawan kehutanan, Masa Depan Industri Kehutanan di tengah krisis finansial global, di Bogor, Sabtu (28/2/2009).

Dephut memperkirakan usaha budidaya Nyamplung sangat prospek. Jika mengacu pada kebutuhan biofuel pada tahun 2025 sebanyak 720.000 kiloliter dapat terpenuhi maka akan ditaksir akan menyerap tenaga kerja sebanyak 120.000 orang. Saat ini biji Nyamplung dikembangkan secara kecil-kecilan dibeberapa desa di Klaten dan Purwerejo Jawa Tengah.

"Tahun depan, paling tidak  tahun 2010 bisa di launching. Setelah penanaman 10 juta akan dibuat grand design Industri biodiesel Nyamplung di Madura," ujarnya.

Meskipun ia mengakui saat ini pengembangan biji Nyamplung masih finalisasi penelitian, dengan harapan adanya bukti sosio ekonomis bahwa pengembangan Nyamplung layak sebagai sumber energi alternatif yang menguntungkan secara ekonomis. Sehingga kasus mandeknya pengembangan pagar jarak (zatropha carcus) saat ini tidak terulang lagi.

Berdasarkan data resmi Dephut, penelitian  biji Nyamplung sudah dilakukan sejak tahun 2005. Hasil pengujian biodiesel Nyamplung oleh Badan Litbang Kehutanan menghasilkan beberapa poin penting mengenai biji Nyamplung diantaranya:

1. Seluruh parameter kualitas telah sesuai dengan kualifikasi biodiesel menurut SNI 04- 7182-2006 dengan rendemen konversi asam lemak bebas (FFA) menjadi metil ester 97,8%.
2. Uji kelayakan atas kinerja permesinan, biodiesel Nyamplung dapat digunakan untuk kendaraan bermotor (otomotif) sebesar 100%, tanpa campuran solar (B 100).
3. Dari sisi lingkungan, biodiesel Nyamplung bebas dari polutan (green solar).

Sedangkan dari sisi investasi biodiesel Nyamplung, mencapai BEP (break event point) pada skala biodiesel 70 ton dan gliserol kotor 14 ton, dengan IRR = 31 %, masa pengembalian modal 6 tahun, NPV = Rp. 326,7 juta,-, B/C ratio = 2,4.

Pada kondisi BEP tersebut diperlukan biji Nyamplung 555 ton setara 11.100 batang pohon Nyamplung atau setara areal 28 Ha dengan produktivitas biji 50 kg/pohon/tahun. (1 daur budidaya nyamplung = 50 tahun, mulai berbuah umur 7 tahun).



(hen/ir)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com