Aliran Modal ke Negara Berkembang Tinggal US$ 190 Miliar

Aliran Modal ke Negara Berkembang Tinggal US$ 190 Miliar

- detikFinance
Senin, 02 Mar 2009 18:14 WIB
Aliran Modal ke Negara Berkembang Tinggal US$ 190 Miliar
Jakarta - Krisis global menyebabkan aliran modal ke negara-negara berkembang  tak lagi lancar. Aliran modal ke negara berkembang anjlok hingga tersisa sepertiganya saja atau dari US$ 600 miliar menjadi hanya US$ 190 miliar.

"Ini artinya akan terjadi kekurangan dari sisi dana buat pembangunan di negara berkembang," ujar Menko Perekonomian sekaligus Menkeu Sri Mulyani Indrawati di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/3/2009).

Karenanya, lembaga-lembaga dunia seperti Bank Dunia, Islamic Development Bank (IDB) diharapkan bisa memberikan peranan yang lebih besar, guna mengkompensasi sebagian dari penurunan aliran modal ke negara berkembang tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Depkeu kini sedang membentuk working group G20 yang bertugas untuk membuat persiapan di KTT G20. Dalam working group G20 itu dibuat persiapan untuk membuat lembaga-lembaga dunia mau memberikan kompensasi bagi aliran modal itu.

"Itu untuk global expenditure fund, ya barangkali tidak dalam bentuk format seperti disampaikan presiden. Tapi idenya ya itu," urai Sri Mulyani.

Inilah ide dari Islamic World Expenditure Support Fund yang dibicarakan antara Presiden SBY dengan PM Malaysia Abdullah Badawi.  Islamic World Expenditure Support Fund merupakan pendanaan oleh sejumlah negara Islam yang mendapatkan keuntungan langsung dari ekspor minyak

Menurut Sri Mulyani, dana tersebut bisa dimanfaatkan oleh negara-negara muslim yang miskin yang harus diamankan kebutuhan pendanaannya di tengah krisis. Hal ini dikarenakan negara miskin itu terutama sangat tergantung pada bantuan ODA (Official Development Agency) yang jumlahnya turun seiring krisis.

"Buat Islamic countries karena sebagian besar negara Islam adalah miskin dan low income contry, jadi dia sudah miskin maka utangnya jangan banyak sekali. Mereka itu amat tergantung pada ODA yang dananya diberikan  secara G2G. Sebab dananya itu pasti berkurang karena negara pemberi ODA sedang kirisis, maka itu negara miskin perlu diamankan," katanya.

Sedangkan negara Islam yang amat kaya terutama karena windfall profit minyak butuh memutar dananya. "Memang ide ini bisa diterima sebenarnya,  sebab memang itu yang dibutuhkan sebenarnya. Surplus capital diberikan pada yang kurang capital dalam term yang konstruktif," katanya.

Namun menurut Sri Mulyani, pendirian  Islamic World Expenditure Support Fund ini bisa menghadapi masalahakarena negara-negara kaya minyak sedang menghadapi harga jatuh. Dubai saja udah mendapatkan injeksi dari Uni Emirat Arab.

"Jadi ide ini barangkali akan sulit dijalankan. Yang bisa dijalankan adalah lewat mekanisme IDB melalui berbagai forum yang sudah di-establish oleh trust fund yang dibuat Negara-negara Islam kaya dari harga minyak. Sekarang butuh instrumen," urainya.

(lh/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads