Demikian disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil menanggapi aksi anggota DPR yang mengajukan hak berpendapat terkait harga premium.
"Jadi jangan lihat satu atau dua bulan, pemerintah lihat dalam perspektif jangka yang cukup. Harga minyak kan naik turun, oleh sebab itu waktu turun sekali tidak diturunkan habis, kita harus lihat kalau nanti harus naik lagi," katanya disela-sela acara World Islamic Economic Forum di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Selasa (3/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Coba bayangkan kalau kemarin turun drastis, menaikkan kembali lebih sulit," katanya.
Untuk itu, pemerintah memilih untuk menyimpan keuntungan yang diperoleh pemerintah dari penjualan premium sebagai langkah siaga jika harga minyak naik lagi.
"Oleh sebab itu kita masih sediakan subsidi secara over all. Jadi bukan berarti pemerintah cari untung di situ, tapi untuk bantalan keadaan jika harga naik lagi," katanya.
Kondisi ini memang unik karena harga BBM di Indonesia masih dikendalikan oleh pemerintah.
"Biasanya harga naik turun karena harga pasar. Ini kan tidak, harga BBM masih dikontrol pemerintah dan dalam keadaan pasar naik. Pemerintah mensubsidi, dalam keadaan turun, pemerintah tidak turunkan sampai lantai dasar, karena kesulitannya waktu naik lagi," katanya. (lih/ir)











































