Menurut Vice President CO2 Shell Bill Spence, teknologi ini menggabungkan tiga metode pemisahan gas yaitu pemisahan CO2 padat (Cyrocell), pemisahan CO2 cair (Condensed Contaminant Centrifugal Separation) dan penggunaan membran (Sapo Membrane).
"Saat ini kami sedang membangun large scale test loop di Canada. Loop ini bisa dikondisikan dengan keadaan riil di lapangan migas. Kami berharap berharap loop ini bisa beroperasi 2011 dan sudah bisa diaplikasikan secara komersial," ujar Bill dalam roundtable discussion PT Shell Indonesia di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (4/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada tahun 2004, 60 persen produksi minyak dan gas kami berasal dari tradisional. Namun pada 2013-2015, 60 persen minyak dan gas kami akan berasal dari lapangan migas yang berat," kata Darwin.
Darwin menyatakan, Shell merupakan perusahaan yang paling banyak mengalokasi dananya untuk mengembangkan teknologi.
"Banyak uang yang kita habiskan untuk teknologi," jelasnya.
Darwin menyatakan saat ini di lapangan-lapangan yang kandungan CO2-nya tinggi, biaya pemisahannya mencapai 60-70 persen dari capexnya.
"Dengan teknologi ini, diharapkan biayanya bisa turun," katanya.
Darwin menambahkan jika kontaminasi CO2 bisa dikurangi, maka volume gas yang dijual akan lebih banyak.
"Jika kita bisa kurangi kontaminasi tersebut, maka 35 persen akan lebih banyak gas yang dijual dan cost produksinya akan lebih murah," ungkapnya.
Salah satu lapangan gas di Indonesia yang membutuhkan teknologi pemisah CO2 adalah Natuna D Alpha yang mengandung CO2 hingga 70 persen.
Pengembangan Natuna kini ditangani Pertamina yang tengah mencari partner. Shell Indonesia merupakan satu dari delapan perusahaan yang tengah diseleksi Pertamina untuk menjadi partner.
(epi/lih)











































