Shell Kembangkan Teknologi Pemisah CO2

Shell Kembangkan Teknologi Pemisah CO2

- detikFinance
Rabu, 04 Mar 2009 12:18 WIB
Shell Kembangkan Teknologi Pemisah CO2
Jakarta - Shell mengembangkan teknologi pemisah kandungan CO2 dari gas. Teknoligi ini bisa diaplikasikan untuk pengembangan lapangan gas yang  mengandung CO2 hingga 90 persen.

Menurut Vice President CO2 Shell Bill Spence, teknologi ini menggabungkan tiga metode pemisahan gas yaitu pemisahan CO2 padat (Cyrocell), pemisahan CO2 cair (Condensed Contaminant Centrifugal Separation) dan penggunaan membran (Sapo Membrane).

"Saat ini kami sedang membangun large scale test loop di Canada. Loop ini bisa dikondisikan dengan keadaan riil di lapangan migas. Kami berharap berharap loop ini bisa beroperasi 2011 dan sudah bisa diaplikasikan secara komersial," ujar Bill dalam roundtable discussion PT Shell Indonesia di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (4/3/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

President Director and Country Chairman PT Shell Indonesia Darwin Silalahi menyatakan Shell terus mengembangkan teknologi untuk separasi CO2 dalam migas sebagai persiapan di masa datang. Shell memang memprediksi produksi minyak dan gas pada tahun 2013-2015 akan mengandalkan lapangan-lapangan yang sulit.

"Pada tahun 2004, 60 persen produksi minyak dan gas kami berasal  dari tradisional. Namun pada  2013-2015, 60 persen minyak dan gas kami akan berasal dari lapangan migas yang berat," kata Darwin.

Darwin menyatakan, Shell merupakan perusahaan yang paling banyak mengalokasi dananya untuk mengembangkan teknologi.

"Banyak uang yang kita habiskan untuk teknologi," jelasnya.

Darwin menyatakan saat ini di lapangan-lapangan yang kandungan CO2-nya tinggi, biaya pemisahannya mencapai 60-70 persen dari capexnya.

"Dengan teknologi ini, diharapkan biayanya bisa turun," katanya.

Darwin menambahkan jika kontaminasi CO2  bisa dikurangi, maka volume gas yang dijual akan lebih banyak.

"Jika kita bisa kurangi kontaminasi tersebut, maka 35 persen akan lebih banyak gas yang dijual dan cost produksinya akan lebih murah,"  ungkapnya.

Salah satu lapangan gas di Indonesia yang membutuhkan teknologi pemisah CO2 adalah Natuna D Alpha yang mengandung CO2 hingga 70 persen.

Pengembangan Natuna kini ditangani Pertamina yang tengah mencari partner. Shell Indonesia merupakan satu dari delapan perusahaan yang tengah diseleksi Pertamina untuk menjadi partner.

(epi/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads