Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin malam (16/3/2009).
"Kalau dari 5% atau 4,5% midpoint (nilai tengah) kita dulu, kemungkinan saat ini downside risk jadi makin nyata dengan adanya update ini (IMF), artinya yang berasal dari faktor eksternal. Doain saja ya," tuturnya.
Sri Mulyani mengatakan dampak penurunan pertumbuhan ekonomi dunia akan berpengaruh kepada sektor perdagangan Indonesia khususnya ekspor dan impor yang sudah terlihat penurunannya sejak Oktober 2008 sampai Januari 2009.
Di tempat yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengatakan, dengan turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di zona negatif, laju pertumbuhan ekspor Indonesia akan terkoreksi.
Demikian juga dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2009 yang dipastikan akan berubah pada pembahasan APBN-P 2009 pertengahan tahun ini. "Pasti ada koreksi asumsi, nanti kita lihat di APBN-P," imbuhnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan besaran stimulus fiskal menentukan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai targat 4,5% di 2009, dan terbuka kemungkinan paket stimulus fiskal tahap kedua dilakukan jika dampaknya kurang dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
"Growth kita pasti akan turun, asumsi 4,5% harus dilihat lagi, kita harus tunggu GDP kuartal I-2009 pada Mei kita lihat dampaknya dan disesuaikan. Jadi stimulus fiskal 1,4% untuk campai pertumbuhan 4,5%, kalau tidak tercapai maka stimulus harus naik," tuturnya.
Sampai saat ini pemerintah telah mengalokasikan paket stimulus fiskal sebesar Rp 73,3 triliun. "Kita akan evaluasi stimulus ini di kuartal II-2009, jika dampak krisis lebih dalam maka kita akan pertimbangkan stimulus tahap kedua, dengan melihat ruang fiskalnya," pungkas Sri Mulyani.
(dnl/ir)











































