Demikian disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil ketika ditemui di kantor pusat Pertamina, Selasa (17/3/2009).
"Kita lihat dulu kondisi pasar, bukan berarti kita kurangi atau tidak. Kepentingan itu kita lihat apa risiko dari utang BUMN atau spending BUMN dalam valas," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagi kita yang penting mengetahui dulu supply dan demand dari kebutuhan valas BUMN karena ada indikasi pada makro," katanya.
Sebelumnya, Sofyan juga menuturkan kebutuhan valas BUMN pada tahun ini tidak sampai US$ 1 miliar. Baginya, nilai sebesar itu terbilang kecil untuk tempo beberapa tahun ke depan.
"U$ 1 miliar itu kecil dalam tempo sekian tahun," katanya.
BUMN yang paling banyak membutuhkan valas adalah Pertamina dengan kebutuhan hingga US$ 30-40 juta per hari. Valas sebanyak itu biasanya digunakan untuk mengimpor BBM dan perdagangan lainnya.
Namun Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan menegaskan, pihaknya selalu berkordinasi dengan Bank Indonesia untuk setiap transaksi valasnya.
"Kebutuhan valas kita (Pertamina) ambil dari BI," ujarnya.
(lih/ir)











































